Tertunduk melantunkan kalimat sakti-Mu
Seribu butir kesombongan gugur dari kelopak mata
Sayup-sayup gemercik nikmat di beranda
Mengalir diiringi angkuhnya malam yang menggetarkan urat nadi
Menggigilkan jemari
Rindu memasuki jiwa dengan paksa
Meronta sia-sia
Raga tak kuasa lepas
Tak pernah rela direnggut waktu
Dinding-dinding bisu menangis
meratapi jam dinding yang terus berpacu
tak tentu
Hina dina manusia
Tak sadar dengan kesalahan yang sama
Terulang, kembali, lupa
Begitu seterusnya
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

