BAHAN INDUK SEBAGAI FAKTOR PEMBENTUK TANAH

DEFINISI BAHAN INDUK
Bahan induk adalah bahan pemula tanah, yang tersusun dari bahan organik dan atau mineral. Bahan induk dapat berasal dari bahan tanah yang diendapkan dari tempat lain sebagai akibat proses transportasi oleh angin dan angin. Menurut Jenny (1941) bahan induk adalah keadaan tanah pada waktu nol (time zero) dari proses pembentukan tanah. Melalui proses pelapukan, batuan berubah menjadi bahan induk, dan dengan adanya proses pelapukan lebih lanjut serta proses-proses pembentukan tanah lain, bahan induk berubah menjadi tanah dalam waktu yang lama.
Dalam ilmu tanah , bahan induk merupakan bahan geologi yang mendasari (umumnya batuan dasar atau deposito atau drift dangkal) di mana tanah cakrawala bentuk. Tanah biasanya mewarisi banyak struktur dan mineral dari bahan induk mereka, dan, dengan demikian, seringkali digolongkan berdasarkan isi bahan mineral konsolidasi atau tidak dikonsolidasi yang telah mengalami tingkat pelapukan fisik atau kimia dan mode dimana bahan yang paling baru diangkut.
Pengaruh bahan induk terhadap pembentukan tanah ditentukan oleh:
a.       Sifat kristalin (beku, sedimen, malihan)
b.      Tekstur (kasar, sedang, halus)
c.       Komposisi mineral
d.      Tingkat kemantapan

JENIS-JENIS BAHAN INDUK
Dalam proses pembentukan tanah terdapat bahan induk yang menyusun pembentukan tanah. Jenis-jenis bahan induk tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Batuan
Batuan dapat didefinisikan sebagai bahan padat yang terjadi didalam membentuk kerak bumi, batuan pada umumnya tersusun atas dua mineral atau lebih. Berdasarkan cara terbentuknya batuan dapat dibedakan menjadi 3 jenis batuan, yaitu beku, batuan endapan dan batuan malihan.
·      Batuan Beku
Batuan beku atau batuan vulkanik terbentuk oleh magma yang berasal dari letusan gunung berapi, batuan beku atau batuan vulkanik terdiri dari meneral yang tinggi dan banyak mengandung unsur hara tanaman. Di Indonesia batuan vulkanik memegang peranan yang lebih penting, hal ini di sebabkan karena gunung berap[i tersebar mana-mana, dan karena letesan gunung berapi yang menghasilkan batuan vulkanik yang menyebabkan kesuburan tanah. Selain atas dasar terjadinya batuan vulkanik juga dapat dibagi atas dasar kandungan kadar Si O2 nya menjadi tiga golongan, yaitu, batuan asam yang berkadar Si O2 lebih dari 65%, batuan intermedier yang kadar Si o2 antar 52% s/d 65% dan batuan basis yang berkadar Si O2 kurang dari 52%.
·      Batuan Sedimen
Batuan endapan terjadi karena proses pengendapan bahan yang diangkut oleh air atau udara dalam waktu yang lama. Ciri untuk membedakan batuan endapan dan batuan lainnya yaitu, batuan endapan biasanya berlapis, mengandung jasad (fosil) atau bekas-bekasnya dan adanya keseragaman yangnyata dari bagian-bagian berbentuk bulat yang menyusun.
Adanya lapisan dalam batuan ini disebabkan karena timbunan lapisan pengendapan yang masing-masing berbeda bahan, tekstur, warna dan tebalnya. Perbedaan ini terutama di sebabkan oleh karena perbedaan waktu pengendapan dan bahan yang diendapkannya.jika bahan yang diendapkannya seragam maka ciri akan terlihat kurang jelas. Batuan endapan dari bahan-bahan yang diendapkan dari hasil pecahan batuan yang telah ada sebelumnya. Proses pelapukan batuan endapan dapat terjadi melalui gerakan bumi, seperti gempa bumi, patahan,timbulan,bahkan lipatan, dan tekanan akibat temperartur, juga bisa diakibatkan oleh tenaga mahkluk hidup saeperti akar dan hewan, maupun gaya kimia yang di sebabkan oleh gaya kimia seperti CO2, O2 asam organik dan sebagainya.
·           Batuan Malihan
Batuan malihan terbentuk dari batuan beku atau batuan endapan atau juga dapat terbentuk dari batuan malihan lainnya yang mengalami proses perubahan susunan dan sentuknya yang akibatkan oleh pengaruh panas, tekanan atau gaya kimia. Batuan malihan adalah batuan yanga memiliki sifat-sifat akibat telah malihnya batuan semula baik batuan beku maupun endapan. Yang di namakan proses malihan adalah jumlah proses yang bekerja dalam zone pelapukan dan menyebabkan pengkristalan kembali bahan induk. Adapun sarat tejadinya proses malihan yaitu di sebabkan oleh temperatur tinggi, tekanan kuat, dan waktu lama.
Bahan mineral berasal dari pelapukan batuan, bahan mineral di dalam batuan yang melapuk tidaklah sama, sehingga susunan mineral di dalam tanah akan tidak sama, tergantung batuan yang melapuk.
Mineral merupakan kumpulan dari kristal-kristal sedangkan kristal adalah suatu persenyawaan yang mempunyai bentuk tertentu sebagai hasil reaksi antara dua atau lebih unsur-unsur kimia kulit bumi. Mineral dapat dibagi ke dalam mineral primer, asesoria, dan sekunder.
·           Mineral primer, merupakan sumber utama unsur kimia dan bahan pokok senyawa organik di tanah. Mineral primer ini menguasai fraksi kasar seperti pasir dan debu yang merupakan partikel tanah dengan diameter 0,002-1 mm. Contoh: feldspar, amfibol, kuarsa, piroksin, dll.
·           Mineral asesoria, merupakan campuran dari bermacam-macam mineral yang terdapat dalam jumlah kecil dalam sistem mineralogi batuan. Mineral ini tahan terhadap pelapukan dan tergabung dalam kuarsa di dalam partikel pasir. Contoh: apatit, rutil, magnetit, zirkon, pirit, dll.
·           Mineral sekunder, mineral ini dibentuk dari pelapukan mineral primemr yang kurang tahan terhadap pelapukan dan menguasai fraksi halus, seperti liat, dengan diameter kurang dari 0,002 mm. Contoh: illit, kaolinit, monmorilonit, mika,dll.

2.      Bahan organik
Bahan organik merupakan bahan induk yang berasal dari proses akumulasi penimbunan hutan rawa / vegetasi rawa dan hewan. Bahan ini merupakan sisa yang dinamis mengalami pelapukan oleh jasad-jasad renik tanah. Karena itu bahan ini merupakan bahan transisi tanah dan harus terus diperbaharui dengan penambahan atau sisa tumbuhan atau bahan organik lainnya.
Bahan organik brperan terhadap kesuburan tanah dan berpengaruh juga ketahanan agregat tahan. Juga bahan organik mempunyai pengaruh terhadap warna tanah yang menjadikan warna tanah coklat kehitaman.serta terhadap ketersediaan hara dalam tanah.
Tumbuhan menjadi sumber utama bagi bahan organik, pada keadaan alami tumbuhan menyediakan bahan organik yang sangat besar, akibat pencernaan oleh mikro organisme bahan organik tercampur tercampur dalam tanah secara proses imfiltasi. Beberapa bentuk kehidupan seperti cacing, rayap, dan semut berperan penting dalam pengangkutan tanah.
Faktor yamg mempengaruhi bahon organik tanah yaitu, kedalaman tanah yang mentukan kadar bahan bahan organik yang ditentukan pada kedalaman 20 cm dan makin kebawah makin berkurang, faktor iklim menyebabkan bilamana semakin rendahnya susu maka makin tinggi pula bahan organik uyang terkandung dalam tanah.
Bahan organik terbentuk dari beberapa bentuk karbon organik, meliputi:
a)      Karbon organik yang menyusun organisme hidup (makro, meso dan makro organisme),
b)      Karbon organik yang menyusun jaringan organisme yang sudah mati tetapi belum terdekomposisi atau masih utuh,
c)      Karbon organik yang menyusun bahan organik yang sedang dalam proses dekomposisi aktif, dan
d)     Karbon organik yang menyusun bahan hasil dekomposisi yang bersifat lebih resisten yang disebut humus. Tanah yang banyak mengandung bahan organik ataupun humus adalah tanah lapisan atas atau top soil, dan semakin ke bawah kandungan bahan organiknya semakin rendah. Tanah disebut tanah organik jika kandungan bahan organiknya diatas 20% (untuk tanah pasir) atau diatas 30% (untuk tanah liat) dan tebal diatas 40 cm.


PROSES PEMBENTUKAN TANAH
Proses pembentukan tanah didahului oleh penghancuran dan pelapukan dan diteruskan dengan perkembangan profil tanah. Pelapukan dibedaakan atas pelapukan fisik atau disentegrasi dan pelapukan kimia atau dekomposisi. Proses desintegrasi berupa penghancuran batuan secara fisik tanpa merubah susunan kimianya. Dekomposisi adalah perubahan susunan kimia bahan. Kedua proses biasanya berlangsung bersama-sama dan saling mempengaruhi satu sama lainnya, sehingga sukar dibedakan hasil pelapukannya. Untuk di Indonesia, proses pelapukan kiia lebih berpengaruh daripada proses pelapukan fisika. Gaya-gaya desintegrasi menyebabkan batuan dan mineral menjadi kecil tanpa mengubah susunannya. Pelapukan menyebabkan perubahan-perubahan kimia, bahan-bahan larut dihasilkan dan mineral baru tertinggal sebagai hasil akhir yang tahan pelapukan.
Proses desintegrasi dan kimia dapat diringkas sebagai berikut:
a.       Mekanik (desintegrasi)
·         Suhu (pemuaian, penciutan)
·         Erosi dan pengendapan oleh air, es, dan angin.
·         Pengaruh tanaman dan binatang.
b.      Kimia (dekomposisi)
·         Hidrolisis
·         Oksidasi 
·         Pelarutan
·         Hidrasi
·         Karbonisasi

 PENGARUH SIFAT BAHAN INDUK TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH
Pengaruh bahan induk terhadap pembentukan tanah ditentukan oleh:
1.      Bahan induk
2.      Tekstur
3.      Komposisi mineral
4.      Tingkat kemantapan
Sebagai bahan induk, batuan dapat dibedakan atas sifat kristalin (beku, kristali, malihan), tekstur (kasar, sedang, halus). Potensi suatu bahan induk dalam pembentukan tanah ditentukan oleh rasio mineral mudah lapuk terhadap mineral tahan lapuk (mineral resisten), yang umumnya disebut indeks pelapukan.
Tingkat ketahanan mineral primer terhadap pelapukan disajikan dalam skema sebagai berikut:
Paling mudah lapuk                      Kelompok Mafik                     Kelompok Felsik
                                                     Olivin
                                                     Piroksin
                                                     Amfibol                                   Plagioklas
                                                     Biotit                                       (Felspat Na, Ca)
                                                     Ortoklas (felspat K)
                                                     Muskovit
                                                     Kwarsa           
Paling sulit lapuk

Skema Kemudahan Lapuk Mineral
    (Notohadiprawiro, T)
Komposisi mineral merupakan sifat bahan induk yang paling penting, karena sifat-sifat ini menentukan sifat fisika dan kimia tanah yang terbentuk. Bahan induk yang bersifat masam, menghasilkan tanah yang mempunyai kendungan kalsium, magnesium, kalium, besi, dan mangan yang rendah, tetapi mempunyai cadangan silika yang tinggi. Hali ini disebabkan oleh komposisi mineral batuan masam yang didominasi oleh silika dan felspar.
Berdasarkan kemantapannya bahan induk yang bersifat tidak mantap misalnya endapan alluvial menghasilkan tanah yang pembentukannya tidak didahului oleh proses pelapukan. Sebaliknya pada bahan induk yang mantap misalnya granit, perkembangan tanah selalu didahului dengan proses pelapukan. Tekstur bahan induk menentukan tekstur tanah yang terbentuk. Oleh karena itu, seringkali dijumpai bahwa bahan induk yang mengandung butir kuarsa berukuran pasir umumnya menghasilkan tanah yang mempunyai tekstur berpasir meskipun telah mengalami proses pelapukan yang hebat.

JENIS-JENIS TANAH YANG DIHASILKAN OLEH BAHAN INDUK
Interaksi antara faktor-faktor pembentuk tanah akan menghasilkan tanah dengan sifat-sifat yang berbeda. Berdasarkan pada faktor pembentuk dan sifat tanah inilah, beberapa ahli mengklasifikasikan tanah dengan klasifikasi yang berbeda. Berikut jenis-jenis tanah menurut asal bahan induk:
·         Tanah Humus
Humus merupakan senyawa kompleks asal jaringan organik tanaman dan atau hewan yang telah dimodifikasi atau sintesis oleh mikroba, yang bersifat agak resisten terhadap pelapukan, berwarna coklat, amorfus (tanpa bentuk/ non kristalin) dan bersifat koloidal. Tanah humus memiliki daya kohesi dan plastisitas rendah, sehingga mengurangi sifat lekat tanah dan membantu granulasi agregat tanah. Tersusun dari lignin dan protein kasar. Tanah ini berwarna coklat kehitaman sehingga dapat menyebabkan warna tanah menjadi gelap.
·         Tanah Organosol atau Tanah Gambut
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk organik dari hutan rawa mempunyai ciri warna cokelat hingga kehitaman, tekstur debu lempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat sampai dengan  agak lekat, dan kandungan unsur hara rendah. Tanah ini terbentuk karena adanya proses pembusukan dari sisa-sisa tumbuhan rawa. Banyak terdapat di rawa Sumatra, Kalimantan, dan Papua, kurang baik untuk pertanian maupun perkebunan karena derajat keasaman tinggi.
·         Tanah Aluvial
Bahannya berasal dari material halus yang diendapkan oleh aliran sungai. Oleh karena itu, tanah jenis ini banyak terdapat di daerah datar sepanjang aliran sungai. Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan.
·         Tanah Mediteran Merah Kuning
Tanah jenis ini berasal dari batuan kapur keras (limestone). Penyebaran di daerah beriklim subhumid, topografi karst dan lereng vulkan dengan ketinggian di bawah 400 m. Warna tanah cokelat hingga merah. Khusus tanah mediteran merah kuning di daerah topografi karst disebut ”Terra Rossa”.
·         Tanah Regosol
Bahan induk tanah ini berasal dari endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar. Penyebaran terutama pada daerah lereng gunung api. Tanah ini banyak terdapat di daerah Sumatra bagian timur dan barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
·         Tanah Litosol
Tanah litosol merupakan jenis tanah berbatu-batu dengan lapisan tanah yang tidak begitu tebal. Bahannya berasal dari jenis batuan beku yang belum mengalami proses pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini banyak ditemukan di lereng gunung dan pegunungan di seluruh Indonesia.
·         Tanah Latosol         
Latosol tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 mm/tahun, dan ketinggian tempat berkisar 300–1.000 meter. Tanah ini terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.
·         Tanah Grumusol
Jenis ini berasal dari batu kapur, batuan lempung, tersebar di daerah iklim subhumid atau subarid, dan curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun.
·         Tanah Podsolik
Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih 2.500 mm/ tahun. Tekstur lempung hingga berpasir, kesuburan rendah hingga sedang, warna merah, dan kering.
·         Tanah Podsol
Jenis tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Penyebaran di daerah beriklim basah, topografi pegunungan, misalnya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Papua Barat. Kesuburan tanah rendah
·         Tanah Andosol
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk abu vulkan. Penyebaran di daerah beriklim sedang dengan curah hujan di atas 2.500 mm/ tahun tanpa bulan kering. Umumnya dijumpai di daerah lereng atas kerucut vulkan pada ketinggian di atas 800 meter. Warna tanah jenis ini umumnya cokelat, abu-abu hingga hitam.

UANG... UANG... OH UANG....

Kapan saat dimana materi bukanlah ukuran???
Rasanya sudah jenuh hidup di dunia kosong yang hanya berisikan gemerlap uang, kedudukan, dan materi belaka.  
Kapan saat semua orang saling mengerti dan memperhatikan?
Kapan massa di mana aku dapat menghirup udara tanpa polusi?
Kapan aku bisa melihat aku sendiri?

Hidup semakin rumit. Manusialah yang membuat semua jadi semakin rumit. Dengan aturan-aturan yang bukan main tak masuk akal. Aku sudah memasuki massa di mana aku tak mengenali lagi orang-orang di sekitarku. Mereka sudah berteman dengan benda-benda mati, dan berbicara padanya. Mereka lebih senang melihat orang lain sengsara, sedangkan mereka dapat merasakan kesenangan dunia.
"Uang adalah segalanya", Oh Dunia...
Siapa yang bilang seperti itu? Hanya orang yang telah diperbudak gemerlap dunia. Aku semakin miris saja melihat kenyataan. Bukan karena aku tidak butuh uang, uang memang bukan segalanya, tapi kenyataannya semua membutuhkan uang. Untuk makan, sekolah, pakaian, untung saja oksigen di dunia ini masih gratis, kalo tidak???

Yaaahhh... Silahkan dijawab sendiri saja.

UNSUR-UNSUR FISIK PEMBENTUK WILAYAH KABUPATEN LUMAJANG

1.      Kondisi Geografis           
Kabupaten Lumajang terletak pada 112°53'–113°23' Bujur Timur dan 7°54'–8°23' Lintang Selatan. Luas wilayah keseluruhan Kabupaten Lumajang adalah 1790,90 km2 atau 3,74% dari luas Propinsi Jawa Timur. Luas tersebut terbagi dalam 21 Kecamatan yang meliputi 197 Desa dan 7 kelurahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Luas Wilayah Kabupaten Lumajang Per Kecamatan
K E C A M A T A N
LUAS (km2)
JUMLAH DESA
  Tempursari
101,36  
7   
  Pronojiwo
38,74  
6   
  Candipuro
144,93  
10   
  Pasirian
183,91  
11   
  Tempeh
88,05  
13   
  Yosowilangun
81,30  
12   
  Rowokangkung
77,95  
7   
  Jatiroto
77,06  
5   
  Randuagung
103,41  
12   
  Pasrujambe
97,30  
7   
  Senduro
228,68  
12   
  Ranuyoso
98,42  
11   
  Lumajang
30,26  
12   
  Sumbersuko
26,54  
8   
  Tekung
30,40  
8   
  Kunir
50,18  
11   
  Sukodono
30,79  
10   
  Padang
52,79  
9   
  Gucialit
72,83  
9   
  Kedungjajang
92,33  
12   
  Klakah
83,67  
12   
J U M L A H  
1.790,90  
204   


Gambar 1:  Peta Kabupaten Lumajang
Kabupaten Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yaitu  Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 m, Gunung Bromo dengan ketinggian 3.2952 m, dan Gunung Lamongan yang tingginya 1.668 m.
Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang adalah sebagai berikut :
  -  Sebelah barat         :   Kabupaten Malang
  -  Sebelah utara         :   Kabupaten Probolinggo
  -  Sebelah timur         :   Kabupaten Jember
  -  Sebelah selatan      :   Samudera Indonesia
Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di kawasan tapal kuda Provinsi Jawa Timur. Di bagian barat laut, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Probolinggo, terdapat rangkaian Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Bagian timur laut adalah ujung barat Pegunungan Iyang. Bagian Timur yang ber-relief rendah menjadikan Lumajang memiliki banyak wisata Pantai seperti Pantai Bambang, Watu Pecak, Watu Godeg, dan Watu Gedeg. Dilingkaran pegunungan semeru terdapat daerah Piket Nol yang menjadi puncak tertinggi di lintas perbukitan selatan berdekatan dengan Goa Tetes yang eksotis. Di Daerah Sumber Mujur juga terdapat Kawasan Hutan Bambu di sekitar mata air Sumber Deling yang merupakan kawasan pemuliaan dan pelestarian aneka jenis tanaman bambu. Di kawasan ini juga terdapat habibat kawanan kera dan ribuan kelelawar (keloang). Selain itu, di Pasrujambe terdapat sebuah tempat wisata mata air suci dan pura watu klosot yang menjadi kawasan tujuan wisata bagi peziarah hindu dari Bali. Ketinggian daerah Kabupaten Lumajang bervariasi dari 0-3.676 m dengan daerah yang terluas adalah pada ketinggian 100-500 m dari permukaan laut 63.405,50 Ha (35,40 %) dan yang tersempit adalah pada ketinggian 0-25 m dpl yaitu 19.722,45 Ha atau 11,01 % dari luas keseluruhan Kabupaten. Curah hujan di Kabupaten Lumajang yaitu 1142 mm/th.
Penduduk Kabupaten Lumajang umumnya adalah Suku Jawa dan Suku Madura dengan agama mayoritas Islam. Di Pegunungan Tengger Kecamatan Senduro (terutama di daerah Ranupane, Argosari, dan sekitarnya), terdapat masyarakat SukuTengger yang memiliki bahasa khas dan beragama Hindu. Di Senduro terdapat semacam bangunan yang menyerupai pura, yang sering di buat tempat persembahan pada hari besar umat hindu, sedangkan pada hari-hari biasa pura tersebut dijadikan sebagai tempat pariwisata.
2.      Geologi
Kondisi geologi merupakan kondisi suatu wilayah berdasarkan struktur dan komposisi batuan yang terdapat pada lapisan bumi yang meliputi topografi maupun bentuk permukaannya. Formasi geologi terdiri dari beberapa macam yaitu kuarter (Q), Mesozoikum (Mz), batuan beku dalam ultra basa (Pdt), Miosen bawah (L Mi), Sekis hablur (Pr), Mio Pliosen (Mi Pi), batuan beku dalam basa (Gb), Paleogen (Pg), dan batuan beku dalam asam kapur (K Gr).
Ditinjau dari segi batuan pembentuk struktur geologi wilayah, kawasan Kabupaten Lumajang terdiri dari jenis batuan Old Kwarter Vulkanik, Young Kwarter Vulkanik, dan Alluvium. Pada umumnya Kabupaten Lumajang disusun oleh formasi batuan Alluvium (68.005,87 Ha) yang mencapai 38% dan terkecil Miosen Sedimentary 8% dari luas wilayah.
Berdasarkan pengamatan peta geologi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Geologi dan Pertambangan tahun 1977, maka di Kabupaten Lumajang terdapat 4 peristiwa geologi yaitu Kuartier Tua, Kuartier Muda, Halosen, dan Miosen. Hasil gunung api Kuartier Muda maupun Tua (Vulkanik) merupakan batuan pembentuk tanah yang paling luas terdapat pada Kabupaten Lumajang 71,76 % dari luas wilayah. Batuan pembentuk lain yang cukup luas adalah Aluvium yaitu 21,06 %, dan fasies Sedimen merupakan areal yang paling sedikit yaitu 7,18 %. Dilihat dari penyebaran letak batuan yang dibentuk pada zaman Kuartier hampir seluruhnya berada pada daerah yang berlereng lebih 2% dan pada ketinggian antara 100 m sampai lebih dari 1000 m. Sejalan dengan keadaan tersebut batuan yang dibentuk pada zaman Meosen (Melosen sedimentary) menyebar pada daerah datar maupun berlereng, tetapi dengan ketinggian kurang dari 1000 m dan terbanyak pada daerah 100-500 m dari permukaan laut (dpl). Sedangkan batuan yang dibentuk pada zaman Halocen (aluvium) terdapat pada daerah berlereng 0 - 2 % dengan ketinggian kurang dari 100 m dari permukaan laut (dpl).
Daerah Kabupaten Lumajang disusun secara geologi oleh batuan-batuan dari Formasi Mandalika (Formasi Wuni, Tuf Argopuro), Batuan Gunung api Jembangan (Tengger, Semeru, dan Lamongan), Endapan Rawa, dan Aluvium. Secara stratigrafi Formasi Mandalika merupakan satuan tertua di wilayah ini yang diperkirakan berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal menempati sebagian kecil wilayah kabupaten Lumajang bagian barat daya. Wilayah ini juga terdiri atas batuan piroklastik dan lava bersusunan andesitik – basaltik yang umumnya telah terpropilitkan.
Tidak selaras diatas batuan gunung api tua ini diendapkan Formasi Wuni berumur Miosen Tengah yang bercirikan perselingan breksi, lava, breksi tufa, breksi lahar, dan tufa pasiran yang  tersebar di sebagian kecil daerah bagian barat daya. Kedua formasi diatas ditutupi oleh satuan-satuan stratigrafi berumur Plistosen yang disusun oleh Tuf Argopuro di bagian timur, hasil kegiatan gunung api  Jembangan, Tengger, dan Semeru di bagian utara dan tengah, serta hasil kegiatan gunung api Lamongan di bagian timur laut. Endapan rawa diendapkan di bagian selatan wilayah Kecamatan Pronojiwo sementara aluvium menempati bagian pedataran di sebelah timur wilayah Kabupaten Lumajang.

            Mengacu kepada kondisi geologi daerah Kabupaten Lumajang yang disusun terutama oleh batuan-batuan piroklastik dan lava, maka produk gunung api di daerah tersebut dapat dikategorikan ke dalam sekwen susunan batuan dari gunung api komposit. Luas sebaran dan besarnya volume produk gunung api tersebut telah membentuk sumber daya bahan galian C yang signifikan di wilayah Lumajang sehingga menciptakan potensi untuk dikelola dan dimanfaatkan secara optimal sebagai penunjang perekonomian daerah. Teridentifikasi berbagai jenis bahan galian golongan C yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan bahan industri sebagai berikut ( Pemerintah Kabupaten Lumajang, Bagian Ekonomi dan Kesra,  2003 ) :
1.      Pasir dan batuan
Pasir dan beraneka ragam ukuran batu mempunyai potensi terbesar di wilayah kabupaten Lumajang yang tersebar di beberapa daerah kecamatan terutama pada aliran kali-kali Leprak, Glidik, Besuksat, Mujur, Rejali, dan sungai-sungai lain berukuran besar/kecil yang berperan sebagai saluran transportasi bahan-bahan rombakan hasil erupsi G. Mahameru. Teridentifikasi bahwa sumber daya bahan galian pasir dan batu hasil kegiatan erupsi G. Mahameru yang berkesinambungan telah menciptakan pendangkalan badan-badan sungai yang dilaluinya dan sekaligus menjadi lahan penambangan utama bahan galian dimaksud. Kuantitas bahan galian termasuk ke dalam kategori sumber daya tereka dengan jumlah total ± 2.333.000 m3.
2.      Tanah atau pasir urug
Jenis bahan galian tanah urug ditambang dari daerah perbukitan, sementara pasir urug digali dari endapan sungai purba dengan  penambangan dibawah pengawasan instansi terkait dan bekas penambangan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
3.      Andesit
Jenis bahan galian ini berasal dari pegunungan yang berada di beberapa kecamatan, terdiri atas batuan andesit tidak terubah berwarna abu-abu dan terubah hidrotermal berwarna kehijauan. Bahan galian andesit tidak terubah berasal dari Gunung Ketuk, Kali Gede, dan Kali Uling. Sedangkan andesit yang terubah ditambang dari sekitar daerah Gunung Mesigit, Gunung Berangkal, dan Gladak Perak. Kedua jenis bahan galian tersebut mempunyai kuantitas yang termasuk ke dalam sumber daya tereka dengan jumlah ± 8.766.456 m3, yang dapat digunakan untuk bahan bangunan dan ornamen dinding bangunan.
4.      Diorit
Diorit dari Gunung Jugo di Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro dikenal sebagai salah satu bahan galian golongan C yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan lantai. Kuantitas bahan galian ini dikategorikan sebagai sumber daya tereka dengan jumlah ± 62.500 m3 memiliki cukup kekerasan, kekuatan tekan, dan apabila dipoles memperlihatkan tekstur menyerupai gabro atau granit.
5.      Tuf lapili
Bahan galian ini tersebar di Gunung Licing bagian selatan, Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian pada ketinggian 200 – 300 meter dan juga ditemukan di lereng barat perbukitan sebelah utara Dusun Dampar, merupakan sisipan dalam breksi vulkanik dengan warna putih keabu-abuan, kuantitasnya termasuk ke dalam kategori sumber daya tereka sebesar ± 193.110 m3 sehingga dapat dimanfaatkan untuk ornamen dinding bangunan.
6.      Batu gamping pasiran
Bahan galian ini terdapat di Desa Wareng dan Umbulsari, Kecamatan Tempursari. Bahan galian ini berwarna coklat muda, berlapis, dan sangat keras. Bahan ini mengandung kuarsa, pecahan batuan, dan fosil bentos dengan kuantitas sebesar ± 1.395.728 m3, dapat dianggap sebagai sumber daya tereka.
7.      Bahan galian logam
Jenis bahan galian berupa mineral-mineral mengandung tembaga (Cu), molybdenum (Mo), seng (Zn), emas (Au), perak (Ag), dan arsen (As), yang masih merupakan indikasi dalam zona mineralisasi di daerah-daerah Desa Oro-oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, Gladak Perak di Kecamatan Candipuro, dan Kali Sukosari di Kecamatan Tempursari. Bahan galian pasir besi teridentifikasi sebagai endapan pantai di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun telah dieksplorasi dan menghasilkan informasi tentang kandungan Fe rata-rata 48,75%.

Pembentukan jenis tanah dipengaruhi oleh iklim, bahan induk, dan keadaan topografi. Berdasarkan Peta Tanah Tinjau yang dikeluarkan Lembaga Penelitian Bogor tahun 1966, jenis tanah di Kabupaten Lumajang terdiri dari alluvial, regosol, andosol, mediteran, dan latosol. Sifat dan ciri jenis tanah tersebut dapat dilihat dalam penjelasan di bawah ini:
a.       Alluvial
Alluvial dibentuk dengan bahan induk bahan-bahan alluvial dan koluvial yang berasal dari berbagai sumber. Tanah ini dibentuk di dataran rendah yang rata, kadang-kadang agak berombak, di dataran rendah tanah ini merupakan dataran banjir. Tanah alluvial merupakan tanah yang belum atau/tidak mempunyai diferensiasi horisan, atau diferensiasi horizon yang lemah. Proses pelapukan masih belum intensif.
Tanah alluvial tidak punya kedalaman yang jelas sampai kedalaman 50 cm, horizon/lapisan yang ada Nampak berstratifikasi dengan warna kelabu sampai coklat. Tanah ini mempunyai kandungan pasir dan debu kurang dari 40% dengan struktur masif atau tanpa struktur. Konsistensi teguh (lembab), plastis (basah) tetapi keras bila kering. Reaksi tanah bervariasi, bahan organik rendah, kejenuhan basa sedang sampai tinggi, sedangkan kandungan unsur hara tergantung pada kandungan bahan induk tanah. Permeabelitasnya rendah dan peka terhadap erosi.
b.      Regosol
Pada umumnya, bahan induk regosol berupa abu vulkan, pasir pantai, serta bahan-bahan sedimen yang tidak mantap. Topografi berkisar dari bergelombang, berombak, dan bergunung, dengan vegetasi bervariasi pula. Regosol merupakan tanah muda yang masih belum mempunyai perkembangan profil, diferensiasi horizon tidak nampak jelas.
Solum regosol bervariasi dari dangkal sampai dalam, berwarna kelabu sampai kuning dan hanya dicirikan oleh profil (A) C dengan batas horizon yang baur. Kandungan pasir dan debu melebihi 60%, berstruktur butir tunggal sehingga mempunyai potensi yang amat gembur dan lepas. Reaksi tanah sangat bervariasi tergantung bahan induk. Bahan organiknya rendah meskipun kejenuhan basanya bervariasi, tanah ini mempunyai kapasitas tukar kation yang rendah. Karena tanah ini bertekstur kasar, mempunyai permeabelitas yang rendah dan sangat peka terhadap erosi terutama erosi air.
c.       Andosol
Andosol merupakan ciri khas di daerah pegunungan yang mempunyai curah hujan sekitar 2000 mm/tahun yang hampir tidak mempunyai musim kering. Bahan induknya berupa tuf vulkan dan abu vulkanik yang relatif muda. Andosol dijumpai pada daerah yang mempunyai ketinggian lebih dari 1000 m dengan topografi bergelombang, agak rata, dan dataran tinggi gunung berapi, di bawah vegetasi hutan tropika basah.
Solum andosol pada umumnya agak dalam sampai dalam, berwarna hitam sampai kekuningan, mempunyai horisan A umbrik tetapi horizon B yang baru berkembang. Struktur tanah umunya remah dan semakin mantap dengan makin dalamnya profil. Konsistensi tanah gembur, mempnyai sifat tidak pulih bila kering. Tekstur dicirikan kandungan debu yang tinggi. Reaksi tanah berkisar dari agak masam sampai netral, kandungan bahan organik tinggi di lapisan atas tetapi menurun di lapisan bawah. Andosol mempunyai permeabelitas yang baik, tetap sangat peka terhadap erosi baik oleh air maupun angin.
d.      Mediteran
Tanah mediteran berkembang dari bahan berkapur kristalin, kapur yang mengandung batuan sedimen, dan batuan atau tuf vulkan basa sampai intermedier. Terbentuk pada daerah yang mempunyai topografi bergelombang sampai berbukit antara 0-700 m di atas permukaan laut.
Solum mediteran agak dalam, bila tanah berkembang dari tuf dijumpai horizon A, B2, dan C, tetapi bila berkembang dari batuan kapur dijumpai horizon A, B2t, dan C. warna tanah berkisar dari kuning sampai merah. Tekstur tanah berkisar dari lempung sampai liat maksimum pada horizon B2 (argilik).
e.       Latosol
Latosol umumnya berkembang dari tuf vulkanik dan batuan vulkanik, pada wilayah bergelombang sampai bergunung dengan ketinggian berkisar 10-1000 m di bawah vegetasi hutan tropika basah.
Latosol dicirikan dengan lapisan solum yang dalam (lebih dari 1,5 m), berwarna merah sampai coklat dengan profil yang hampir homogen. Tanah ini mempunyai tekstur berliat, yang cenderung semakin berliat dengan makin dalamnya profil. Struktur tanah adalah remah sampai gumpal sudut yang lemah dengan konsistensi yang gembur di semua bagian profil tanah. Ditinjau dari sifat kimia, reaksi tanah berkisar dari masam sampai agak masam, bahan organik rendah, kejenuhan basa lebih dari 35%, tetapi kapasitas tukar kation kurang dari 4 me/100 liat. Kandungan unsur hara berkisar dari rendah sampai sedang dan mempunyai permeabelitas baik. Secara umum sifat fisik latosol adalah baik.
Jenis tanah di Kota Lumajang pada umumnya seragam yaitu variasi antara latosol dan regosol dengan bahan induk berupa pasir/abu tuf dan batuan vulkan intermedier sampai basis. Struktur tanahnya remah sampai liat lempung, gembur/sangat gemur, sifat kimia baik beradsorbsi > 33 m. cq./100 gr liat dan gumpal dengan tata air dan udara baik. Tekstur batuan ini agak porous, gersang, dan pasir berlempung yang cukup baik untuk kegiatan pertanian dan kurang baik untuk pembangunan gedung berlantai tinggi.
3.      Morfologi
Morfologi Jawa Timur terdapat tiga zone, yaitu:
-          Zone Selatan   : terdiri atas plato kapur yang miring ke selatan dan paneplain yang terangkat, pada umumnya dibagian utara dibatasi gawir sesar.
-          Zone Tengah   : terdiri atas depresi yang ditumbuhi gunung-gunung aktif
-          Zone Utara      : terdiri dari rangkaian pegunungan lipatan rendah yang dikelilingi perbukitan dan beberapa volkan.
Daerah Lumajang berada pada zone tengah, terdiri atas formasi pegunungan denudasional bukan kapur dan dataran nyaris dengan topografi bergelombang yang kemiringannya datar hingga sangat curam.
Pegunungan Selatan di Jawa Timur berkembang sebagai fasies volkanik dan karbonatan yang berumur Miosen. Di sebelah utara dari jalur volkanik kwarter adalah jalur Kendeng yang terdiri dari endapan Tersier yang agak tebal. Menurut Genevraye dan Samuel (1972), tebalnya lapisan Tersier di sini mencapai beberapa ribu meter. Dekat kota Cepu daerah ini terlipat dan tersesarkan dengan kuat. Di beberapa tempat lapisan-lapisan itu bahkan terpotong-potong oleh sesar naik dengan sudut kemiringan yang kecil. Pegunungan Selatan di wilayah ini tenggelam. Depresi Lumajang diapit dua sesar besar di sebelah barat dan timurnya. Dua sesar besar ini telah memutuskan dan mengubah kelurusan jalur gunungapi Kuarter di Jawa Timur.
Karakteristik daerah Lumajang merupakan depresi yang tertimbun di bawah dataran alluvial sebagai akibat proses down warping dan merupakan wilayah pengaliran sungai-sungai yang berasal  dari kedua dataran tinggi di sebelah barat dan timur depresi. Di sebelah selatannya muncul sebagai dangkalan yang merupakan selat antara daratan Lumajang dengan Nusa Barong. Oleh karena itu sedimentasi yang cepat di bagian ini maka terbentuklah berbagai variasi gosong pasir dan tambolo. Nusa Barong sendiri berupa plato kapur dengan topografi yang relatif sempurna.
Keberadaan sesar besar utara-selatan sedikit melengkung menghadap depresi Lumajang adalah penyebab indentasi dan depresi Lumajang. Sesar besar ini dapat menjelaskan kelurusan gunungapi Semeru-Bromo-Penanjakan. Puncak-puncak gunung ini tersebar utara-selatan. Bila kita berdiri di puncak Penanjakan (2775 m) sebelah utara Bromo (2329 m), kita akan melihat ke utara akan nampak  laut Selat Madura, melihat ke selatan akan nampak gunung Bromo dan Semeru. Kelurusan ini membuat masyarakat Tengger menyucikan ketiga gunung yang dianggapnya  sebagai atap dunia itu. Sebenarnya, di bawah ketiga gunung ini terdapat sesar besar yang juga konon bertanggung jawab telah menenggelamkan Pegunungan Selatan Jawa di wilayah ini. Sesar besar ini telah diterobos magma sejak Plistosen atas sampai Holosen menghasilkan gunung-gunung di kawasan Kompleks Tengger. Semacam erupsi linier dalam skala besar telah terjadi dari selatan ke utara di sepanjang sesar ini berganti-ganti selama Plistosen sampai Kuarter. Dari selatan ke utara ditemukan pusat2 erupsi sbb. : Semeru, Jembangan, Kepolo, Ayek-Ayek, Kursi, Bromo, Batok, dan Penanjakan. Yang masih suka meletus sampai kini adalah Semeru dan Bromo.
Danau kawah Ranu Kembolo, Ranu Pani, dan Ranu Regulo merupakan maar sisa erupsi gunung Ayek2 yang terletak di antara Kaldera Tengger dan Semeru.  Yang pernah mendaki Semeru pasti pernah melalui pos-pos Ranu Pani dan Ranu Kembolo ini. Van Bemmelen (1949) menarik garis volcano-tectonic yang besar dari Selat Madura sampai hampir pantai selatan Jawa Timur berarah utara-selatan. Menurutnya, inilah sebuah transverse fault yang besar yang memotong tegak lurus trend struktur Jawa bagian barat-timur. Transverse fault ini menjadi lokasi semua gunung api aktif maupun mati di wilayah ini, sehingga lineament gunung api ini menyimpang dari lineament gunung api Jawa pada umumnya (barat-timur). Kompleks Tengger-Semeru berarah utara-selatan, bahkan wilayah Grati dan Semokrong di tepi pantai utara eastern spur Jawa Timur ini, atau di sebelah selatan Selat Madura, menurut van Bemmelen (1949) masih merupakan bukit-bukit yang terjadi oleh aktivitas volcano-tectonic akibat runtuhnya kaldera Tengger.

Gambar 6: Deretan pegunungan di sekitar Semeru
Meminjam transverse fault Tengger-Semeru van Bemmelen ini untuk menerangkan terjadinya Depresi Lumajang ke sebelah timurnya, dengan menggunakan juga transverse fault pasangannya di wilayah Jember, yaitu Iyang (Yang)-Argopuro Fault . Kedua transverse fault ini mengapit wilayah Lumajang yang tenggelam, sehingga bisa disimpulkan bahwa kedua transverse fault tersebut merupakan block faulting yang besar dengan block terbannya (downblock) ditempati oleh Depresi Lumajang. Letak Lumajang yang tenggelam bisa dilihat apabila mengamati garis pantai selatan Lumajang yang terindentasi ke dalam dan Pegunungan Selatannya yang hilang.
4.      Hidrologi
 Keadaan hidrologi dan pengairan merupakan keadaan yang menggambarkan fisik tanah yang berhubungan dengan adanya genangan air, saluran irigasi, sungai, dan danau. Dengan mengetahui keadaan tersebut akan dapat diketahui cara pemanfaatan tanah. Misalnya pada daerah yang banyak terdapat aliran sungai, penduduknya banyak memanfaatkan sungai sebagai sarana kehidupan rumah tangga sehari-hari. Pada daerah yang banyak terdapat saluran irigasi berarti daerah tersebut telah memanfaatkan tanahnya untuk budidaya pertanian lahan basah. Pada daerah yang banyak terdapat alur sungai berarti daerah tersebut telah memanfaatkan air tersebut sebagai bahan baku air bersih.
Kemampuan Lahan adalah salah satu aspek fisik yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rencana fisik karena menyangkut kemampuan efektif tanah dan kondisi hidrologi wilayah. Kemampuan jenis tanah adalah daya dukung tanah pada suatu wilayah apabila dilakukan pembudidayaan serta menjadi daya dukung ketersediaan air pada wilayah tersebut. Ada enam indikator kemampuan tanah yakni lereng/kemiringan tanah, kedalaman efektif tanah, tekstur tanah, drainase, tingkat erosi, dan faktor pembatas yang dijelaskan sebagai berikut :
a.       Kemiringan Tanah (Lereng)
Kemiringan tanah (lereng) merupakan sudut yang dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horisontal. Kabupaten Lumajang seluas 179.090,00 Ha, berdasarkan klasifikasi lereng (kemiringan) adalah :
-          Datar (0-2%) seluas 87.199,59 Ha (45,9%)
-          Landai-agak miring (2-15%) seluas 1.459,57 Ha (17,57%)
-          Miring-agak curam (15-40%) seluas 28.827,89 Ha (10,10%)
-          Curam-sangat curam (lebih dari 90%) seluas 36.602,65 Ha
b.      Drainase
        Drainase adalah kemampuan permukaan tanah untuk merembeskan air secara alami atau cepat atau lambatnya air hilang dari permukaan tanah setelah hujan secara alami dan bukan karena perlakuan manusia. Berdasarkan pengertian tersebut, maka drainase diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas yakni tidak pernah tergenang, tergenang secara periodik, dan tergenang terus-menerus.
Secara umum keadaan drainase di Kabupaten Lumajang cukup baik mengingat keadaan topografi yang bervariasi kemiringannya. Keadaan topografi di Kabupaten Lumajang yang bervariasi mulai datar sampai curam menguntungkan dari aspek ketergantungannya. Pengaturan air yang baik dan berfungsinya saluran pengairan, menyebabkan daerah tidak tergenang kecuali jika terjadi bencana alam.
Kabupaten Lumajang mempunyai 31 sungai dan 6 air terjun. Selain itu juga terdapat danau (ranu), yakni Ranu Pakis, Ranu Klakah, dan Ranu Bedali di Kecamatan Klakah serta Ranu Pane dan Ranu Gumbolo di Kecamatan Senduro. Selain itu di Lumajang terdapat beberapa sumber air bersih yang digunakan oleh warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari baik untuk keperluan pribadi maupun untuk irigasi.
Sungai-sungai besar dengan daerah aliran di lumajang dan sekitarnya antara lain Sungai Besuk Sat, Sungai Bondoyudo, Sungai Kaliasem, Sungai Kalimujur, Sungai Kali Pancing, dan Sungai Rejali yang hampir kesemuanya bermuara di Pantai Laut Selatan. Lumajang juga mempunyai beberapa tempat wisata yang tidak kalah menariknya dari daerah lain seperti Piket Nol, Hutan Bambu, dan juga Pantai Bambang serta pemandian Selo Kambang yang terletak di Kecamatan Sumbersuko dan masih banyak tempat tempat wisata lainnya.

Gambar 7: Beberapa sungai di Lumajang yang bermuara di Pantai Laut Selatan


Gambar 8: Sungai pengendapan material Gunung Semeru
Kedalaman muka air tanah dangkal di Kota Lumajang adalah 2 meter dengan debit yang cukup konstan. Mutu air di kota ini menunjukkan bahwa kualitas airnya cukup baik dengan curah hujan rata-rata adalah 1997 mm per tahun dan kedalam air tanah rata-rata adalah 2 meter.