ANALISIS IKLIM KECAMATAN SUKODONO KABUPATEN LUMAJANG


Untuk membuat analisis iklim dibutuhkan data curah hujan dan suhu daerah lima tahun atau sepuluh tahunan. 

DATA CURAH HUJAN PER BULAN TAHUN 2003-2007 (mm)
Kec. Sukodono Kab. Lumajang Provinsi Jawa Timur
Bulan
2003
2004
2005
2006
2007
Rata-rata Curah Hujan
Januari
417
235
203
154
159
233.6
Februari
264
226
191
223
323
245.4
Maret
150
210
171
216
141
177.6
April
67
120
313
370
289
231.8
Mei
41
244
0
89
107
96.2
Juni
11
22
45
29
77
36.8
Juli
1
39
46
5
10
20.2
Agustus
0
7
9
1
41
11.6
September
5
14
6
0
3
5.6
Oktober
13
62
258
0
47
76
November
307
251
131
116
166
194.2
Desember
219
290
523
238
322
318.4
Jumlah
1495
1720
1896
1441
1685
137.283333




DATA SUHU PER BULAN TAHUN 2003-2007 (0C)
Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur
Bulan
2003
2004
2005
2006
2007
Rata-rata suhu
Januari
27
27
30
28
28
28
Februari
30
29
30
29
28
29.2
Maret
29
29
30
29
28
29
April
29
30
30
29
28
29.2
Mei
29
29
30
29
28
29
Juni
28
28
30
28
27
28.2
Juli
27
28
28
29
26
27.6
Agustus
27
28
27
28
25
27
September
28
28
29
26
26
27.4
Oktober
29
30
29
28
28
28.8
November
29
30
29
29
28
29
Desember
29
29
29
29
28
28.8
Jumlah
341
345
351
341
328
28.4333333


Kabupaten Lumajang terletak pada 112053' - 113023' Bujur Timur dan 7054' - 8023' Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten Lumajang adalah 1.790,90 km2 atau 3,74% dari luas Propinsi Jawa Timur. Luas tersebut terbagi dalam 21 Kecamatan yang meliputi 197 Desa dan 7 kelurahan. Ketinggian daerah Kabupaten Lumajang bervariasi dari 0-3.676 m.
 Kabupaten Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yaitu:

-          Gunung Semeru (3.676 m)
-          Gunung Bromo (3.2952 m)
-          Gunung Lamongan (1.668 m)
Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang adalah sebagai berikut :
-          Sebelah barat    :   Kabupaten Malang
-          Sebelah utara    :   Kabupaten Probolinggo
-          Sebelah timur    :   Kabupaten Jember
-          Sebelah selatan :   Samudera Indonesia
            Kecamatan Sukodono adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Lumajang yang mempunyai ketinggian 47 mdpl dengan curah hujan 1.779 mm pertahun. Secara geografis Kecamatan Sukodono terletak pada 8001’32” LS - 113015’02” BT dengan luas sekitar 29,42 Km2. Berdasarkan administrasi kewilayahan Kecamatan Sukodono terdiri dari wilayah pedesaan dengan 10 desa. Daerah ini berbatasan dengan:
·         Sebelah utara          : Kecamatan Kedungjajang
·         Sebelah selatan       : Kecamatan Lumajang
·         Sebelah Timur         : Kecamatan Jatiroto
·         Sebelah barat          : Kecamatan Padang

Keadaan Klimatologi
Lokasi Kabupaten Lumajang yang berada di sekitar garis katulistiwa menyebabkan daerah ini mempunyai perubahan iklim dua jenis setiap tahun, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Untuk musim kemarau berkisar pada bulan April hingga Oktober, sedangkan musim penghujan dari bulan Oktober hingga April. Daerah Lumajang mempunyai 3 tipe iklim yaitu agak basah, sedang dan agak kering. Kecamatan Sukodono termasuk ke dalam iklim sedang.
Berdasarkan dari data curah hujan dan suhu selama 5 tahun yang telah diperoleh, iklim mikro di Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang dapat diketahui. Melalui beberapa perhitungan yang sesuai dengan klasifikasi yang ditentukan oleh para ahli, yaitu Junghunh, Kooepen, Thornwaite, Mohr, Smith dan Ferguson, dan Oldeman dapat diketahui iklim mikro di Kecamatan Sukodono sebagai berikut:
a)      Berdasarkan Junghunh, Kecamatan Sukodono termasuk kedalam Zone panas, yaitu daerah yang berada pada ketinggian 0-600 m dpl, suhu rata-rata >22°C, dan tanaman budidaya yang cocok adalah tembakau, kelapa, padi, dan jagung.
b)      Berdasarkan Kooepen, Kecamatan Sukodono memiliki iklim Koeppen A golongan Aw, yaitu iklim topis basah dan kering dan memiliki musim kering yang jelas dalam periode musim dingin.
c)      Berdasarkan Thornwaite, Kecamatan Sukodono memiliki iklim BA’ di mana B yaitu wilayah yang lembab dengan keefektifan tanaman hutan dengan golongan suhu A’ (tropis).
d)     Berdasarkan Mohr, Kecamatan Sukodono termasuk ke dalam golongan III dalam iklim Mohr, yaitu derah agak kering dengan bulan kering 3-4 bulan.
e)      Berdasarkan Smith dan Ferguson, Kecamatan Sukodono memiliki jenis iklim D, yaitu tipe iklim sedang
f)       Berdasarkan Oldeman, Kecamatan Sukodono mempunyai iklim D3, yaitu memiliki bulan basah 3 - 4 bulan dan bulan kering 4 - 6 bulan.

DAFTAR PUSTAKA



Utomo, Dwiyono Hari. 2004. Meteorologi-Klimatologi dalam Studi Geografi. Malang:Universitas Negeri Malang.

Pemerintah Kab. Lumajang. 2007. RTRW Kabupaten Lumajang.

Pemerintah Kabupaten Lumajang. Tanpa tahun. Kecamatan Sukodono, (online), (http://www.lumajang.go.id/sukodono.php, diakses tanggal 14 November 2011).




GUNUNG API


A.    Pengertian
Gunung api adalah tempat atau bukaan darimana batuan kental pijar atau gas, dan umumnya kedua-duanya, keluar dari dalam bumi ke permukaan, dan bahan batuan yang mengumpul di sekeliling bukaan itu membentuk bukit atau gunung (Macdonald, 1972). Tempat atau bukaan yang dimaksud adalah kawah. Batuan kental pijar dan gas di sini adalah magma.

B.     Sebaran Gunung Api Aktif di Indonesia

Menurut van Bemmelen gunung api di Indonesia ada 128 buah. Bentuk gunung api di Indonesia dari Pulau Sumatera hingga kepulauan Sangir-Talaud melengkung seperti busur. Di Indonesia sebaran gunung api aktif dibagi menjadi empat busur gunung api, yaitu:
1.      Busur gunung api Sunda, meliputi Pulau Sumatera, Pulau Jawa. Dan Kepulauan Nusa Tenggara.
2.      Busur Gnung Api Banda, merupakan kelompok gunung api yang ada di Kepulauan Banda.
3.      Busur Gunung Api Halmahera, mencakup gunung api yang ada di Halmahera dan Maluku
4.      Busur Gunung Api Sulawesi Utara – Kepulauan Sangihe, merupakan kelompok gunung api yang terdapat di Sulawesi Utara kea rah utara hingga Kepulauan Sangir-Talaud atau Sangihe.

C.     Sebaran Gunung Api Berdasarkan Tekonik Lempeng

Berdasarkan teori tektonik lempeng, pemunculan gunung api dapat dibagi menjadi lima kelompok:
1.      Gunung api yang muncul di pemekaran samudera
2.      Gunung api yang muncul di pemekaran kerak benua
3.      Pulau gunung lautan, gunung api ini muncul sebagai akibat penyempitan kerak samudera
4.      Busur gunung api tepi benua, akibat penunjaman kerak samudera ke bawah kerak benua. Beberapa ahli membagi kelompok gunung api tepi benua menjadi dua subkelompok berdasarkan kenampakan fisiografinya, yaitu:
-          Gunung api secara sensu strict, benar-benar berada di tepi benua
-          Busur gunung api kepulauan, yaitu jajaran kepulauan gunung api yang letaknya di antara samudera dan benua, serta dengan benua itu sendiri dipisahkan oleh laut.
5.      Gunung api di batas kerak samudera, akibat dua kerak samudera saling bertumbukan.

D.    Bentuk dan Struktur Gunung Api
Secara umum dan berdasarkan kegiatannya, gunung api dibedakan menjadi:
1.      Gunung Api Monogenesa (monogenetic volcanoes)
Gunung api monogenesa dalah gunung api yang terbentuk oleh satu erupsi atau satu fase erupsi saja sehingga waktu hidupnya lebih pendek dan ukurannya relative kecil. Magma yang keluar ke permukaan bumi dalam waktu relative pendek, dengan volume kecil, energy rendah, atau bahkan hanya melibatkan bahan gas akan memebentuk gunung api yang relative kecil
2.      Gunung Api Poligenesa (polygenetic volcanoes)
Gunung api poligenesa adalah gunung api yang terbentuk oleh banyak atau berulang kali erupsi, di mana fase erupsi satu dengan lainnya dipisahkan oleh waktu istirahat panjang dan sering melibatkan berbagai jenis magma.

E.     Jenis-jenis Erupsi
Erupsi gunung api adalah proses keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan (ekstrusi maupun intrusi).
1.      Erupsi berdasarkan asal-usul bahan penyusun
-          Erupsi magmatic, yaitu erupsi yang menghasilkan bahan padat langsung berasal dari magma
-          Erupsi freatik atau hidroklastika, yaitu erupsi di mana bahan padat yang dilontarkan keluar dari lubang kawah berasal dari batuan samping. Tenaga letusan berasal dari gas bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh interaksi antara magma yang bertemperatur tinggi dengan air tanah sehingga terbentuk uap air dan gas gunung api.
-          Letusan freatomagnetik, yaitu letusan di mana sebagian besar bahan yang dilontarkan dari batuan lama, dan sebagian kecil langsung dari magma. Letusan ini merupakan campuran dari letusan freatik dengan letusan magmatic.

2.      Erupsi berdasarkan sifat kegiatan
-          Erupsi lelehan, yaitu keluarnya lava secara meleleh.
-          Erupsi letusan, yaitu keluarnya magma secara meletus
-          Kombinasi erupsi Efusif dengan eksplosif, erupsi ini biasanya diantarai oleh fase istirahat yang beragam.

3.      Erupsi berdasarkan lokasi

-          Erupsi pusat, apabila erupsi terjadi di kawah pusat yang biasanya terletak di puncak kerucut gunung api utama
-          Erupsi lereng, bila erupsi terletak di lereng kerucut gunung api utama
-          Erupsi eksentrik, bila letak erupsi di luar tubuh gunung api utamanya. Erupsi ini dapat berada di kaki atau datarn di sekitar gunung api utama.

4.      Erupsi berdasarkan kejadian yang khas
-          Letusan Plinial
Merupakan jenis letusan dahsyat yang mengakibatkan kerusakan parah terhadap wilayah di sekitarnya. Magma pada letusan Plinial sangat kental dan memiliki kandungan gas yang sangat tinggi. Material piroklastik yang dihasilkan dalam letusan ini dapat terlempar sampai setinggi 48 km di udara, dengan kecepatan ratusan kilometer per detik.
Letusan Plinial dapat berlangsung selama beberapa jam, atau bahkan beberapa hari, dan mengeluarkan asap tebal yang membubung tinggi di udara. Material vulkanik yang terkandung dalam asap ini berjatuhan di wilayah-wilayah sekitar gunung tersebut. Kadang bukan hanya di satu sisi, tergantung dari arah angin yang menerbangkannya. Tambahan lagi, letusan Plinian dapat mengeluarkan aliran lava yang bergerak sangat cepat dan memusnahkan apa pun yang dilaluinya.

-          Letusan Hawaiian
Letusan jenis ini tidak terlalu eksplosif juga tidak terlalu merusak. Letusan ini tidak memancarkan terlalu banyak material piroklastik ke udara, melainkan lebih banyak mengeluarkan lava yang tidak terlalu kental dengan kandungan gas rendah. Lava mengalir dengan bermacam cara, namun yang paling menarik adalah air mancur api yang berwarna oranye terang yang memancar setinggi ratusan meter ke udara. Cara lainnya yang juga sering dijumpai adalah lava mengalir secara teratur dari satu lubang, yang akhirnya membentuk danau atau kolam lava pada kawah atau cekungan lainnya. Lava yang mengalir dan memancar dari air mancur api dapat merusak tanaman dan pepohonan di sekitarnya, namun gerakannya cukup lamban sehingga memungkinkan penduduk sekitar untuk mengungsi dan menyelamatkan diri. Letusan ini dinamakan Letusan Hawaii karena jenis letusan ini memang umum dijumpai pada pegunungan berapi di Kepulauan Hawaii.

-          Letusan Strombolian
Letusan ini mengeluarkan sejumlah kecil lava yang menjulang setinggi 15 hingga 90 meter ke udara, dengan letupan-letupan pendek. Lava cukup kental, sehingga tekanan gas harus terlebih dulu meningkat sebelum mampu mendesak material-material terbang ke udara. Ledakan-ledakan yang teratur pada letusan ini dapat menimbulkan bunyi dentuman seperti suara bom, namun letusannya relatif kecil. Letusan Strombolian, secara umum tidak menghasilkan aliran lava, namun sebagian lava mungkin akan menyertai proses letusan. Letusan ini juga mengeluarkan sejumlah kecil abu tepra.

-          Letusan Vulkanian
Seperti halnya letusan Strombolian, letusan Vulkanian juga disertai dengan ledakan-ledakan pendek. Namun diameter asap yang membubung ke udara pada letusan ini biasanya lebih besar dibanding pada letusan Strombolian, dan asap ini sebagian besar tersusun oleh material piroklastik. Ledakan diawali dengan keluarnya magma kental dengan kandungan gas yang tinggi, dimana sebagian kecil tekanan gas mendorong magma terlempar ke udara. Selain abu tepra, letusan Vulkanian juga meluncurkan gumpalan-gumpalan piroklastik seukuran bola sepak ke udara. Umumnya, letusan Vulkanian ini tidak disertai dengan aliran lava.

-          Letusan St. Vincent
Erupsi yang disertai dengan lava yang kental dan tekanan gas sedang, berasal dari dapur magma yang dangkal disebut dengan tipe letusan St. Vincent. Contoh Gunung Kelud di Jawa Timur.

-          Letusan Tipe Merapi
Letusan tipe ini mengeluarkan lava kental sehingga menyumbat mulut kawah. Akibatnya, tekanan gas menjadi semakin bertambah kuat dan memecahkan sumbatan lava. Sumbatan yang pecah-pecah terdorong ke atas dan akhirnya terlempar keluar. Material ini menuruni lereng gunung sebagai ladu atau gloedlawine. Selain itu, terjadi pula awan panas (gloedwolk) atau sering disebut wedhus gembel. Letusan tipe merapi sangat berbahaya bagi penduduk di sekitarnya.

-          Letusan Hidrovulkanik
Bila letusan gunung berapi terjadi di dekat samudra, awan mendung, atau wilayah lembab lainnya, interaksi antara magma dan air dapat menciptakan gumpalan asap yang unik. Sebenarnya dalam proses ini magma yang panas memanaskan air sehingga menjadi uap. Perubahan bentuk yang cepat dari air ke uap dapat menyebabkan ledakan dalam partikel-partikel air, yang dapat memecahkan material piroklastik, dan kemudian menciptakan debu api. Letusan hidrovulkanik sangat bervariasi. Sebagian lebih banyak diwarnai oleh letupan-letupan pendek, sebagian lainnya ditandai dengan munculnya bubungan asap yang bertahan selama beberapa saat. Letusan ini juga dapat melelehkan salju dalam skala besar, yang mengakibatkan terjadinya tanah longsor dan banjir bandang.

-          Letusan Rekahan (Fissure Eruptions)
Tidak semua letusan gunung berapi dimulai dengan ledakan yang disebabkan oleh tekanan gas. Letusan rekahan terjadi apabila magma mengalir ke atas melalui celah-celah di tanah dan bocor keluar ke permukaan. Ini seringkali terjadi pada lokasi dimana pergeseran lempeng menimbulkan retakan besar di penampang bumi, dan mungkin juga menciptakan landasan gunung berapi dengan sebuah lubang di bagian tengahnya. Letusan rekahan ditandai dengan adanya tirai api, sebuah tirai yang memuntahkan lava ke atas permukaan tanah. Letusan rekahan dapat mengeluarkan aliran lava yang sangat berat, meskipun lavanya sendiri umumnya bergerak dengan sangat lamban.