Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran dari kurikulum yang dapat dijadikan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran dan membentuk kompetensi peserta didik. Perencanaan dalam kegiatan pembelajaran sangatlah penting karena kegiatan perencanaan dapat menentukan kualitas pembelajaran. Meskipun kurikulum sudah dijabarkan dalam silabus, namun hal tersebut masih terlalu umum. RPP sendiri merupakan penjabaran dari silabus yang lebih rinci karena mencakup kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh siswa dan apa saja yang akan dilakukan oleh guru saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Dengan demikian antara silabus dan RPP haruslah singkron.
Di sini saya akan memberikan contoh RPP yang saya jabarkan dari silabus yang saya aploud sebelumnya di sini.
DOWNLOAD
Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Diposting oleh
heni puja
on Senin, 22 April 2013
Label:
download,
pendidikan
/
Comments: (0)
Membuat Silabus
Diposting oleh
heni puja
Label:
download,
pendidikan
/
Comments: (0)
Secara Sederhana, silabus dapat diartikan sebagai rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan, berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP) (Mulyasa,2010). Silabus sendiri merupakan penjabaran yang lebih rinci dari SK dan KD yang memuat tiga komponen utama, yaitu kompetensi yang ingin dicapai, kegiatan pembelajaran, dan upaya penilaian.
Untuk contoh silabus geografi dapat didownload pada link di bawah ini.
DOWNLOAD
Untuk contoh silabus geografi dapat didownload pada link di bawah ini.
DOWNLOAD
Daya Tarik Ranu Pane, Ranu Regulo, dan Bukit Teletubies Kabupaten Lumajang
Diposting oleh
heni puja
on Sabtu, 20 April 2013
Label:
cerita kita,
Hobby,
Wisata dan Kuliner
/
Comments: (0)
Setelah lama vakum dari dunia per-bloging-an karena kesibukan kuliah akhirnya saya muncul ke permukaan lagi. Kali ini saya ingin menyambung blog yang pernah saya tulis tentang wisata di Kabupaten Lumajang. Namun, pada posting kali ini saya menambahkan lebih banyak lagi foto yang saya ambil beberapa bulan lalu supa para pembaca ngiler.
Sekedar mengingatkan kembali untuk mengunjungi Ranu Pane, Ranu Regulo, dan Bukit Teletubies kita hanya perlu satu kali jalan saja karena letak dari ketiga tempat ini berdekatan. Untuk mengunjunginya bisa melalui 3 jalur, yang pertama dari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, dari Kabupaten Malang, dan bisa juga melalui Probolinggo. Jujur saja saya kurang faham jalur melalui Kab Malang dan Probolinggo, namun kondisi terakhir saya melewati Kec Senduro Kabupaten Lumajang, jalan akses ke sana lumayan butuh perjuangan karena jalan aspal banyak yang rusak.
Perlu diingat bahwa di sini gak ada orang jualan jadi sebisa mungkin persiapkan bekal dari rumah. Kalaupun ada yang jualan harganya sangat mahal "banget". Yuk langsung cekidot saja...
Ini foto aku ambil pas di ranu pane...
Nanti akan ada jalan kecil seperti ini.. nah lewat jalan ini kita akan sampai di Ranu Regulo cukup dengan jalan kaki...
Setelah menyusuri jalan tadi gak sampe 5 menit dengan jalan kaki kita udah sampai di Ranu Regulo...
Sekedar mengingatkan kembali untuk mengunjungi Ranu Pane, Ranu Regulo, dan Bukit Teletubies kita hanya perlu satu kali jalan saja karena letak dari ketiga tempat ini berdekatan. Untuk mengunjunginya bisa melalui 3 jalur, yang pertama dari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, dari Kabupaten Malang, dan bisa juga melalui Probolinggo. Jujur saja saya kurang faham jalur melalui Kab Malang dan Probolinggo, namun kondisi terakhir saya melewati Kec Senduro Kabupaten Lumajang, jalan akses ke sana lumayan butuh perjuangan karena jalan aspal banyak yang rusak.
Perlu diingat bahwa di sini gak ada orang jualan jadi sebisa mungkin persiapkan bekal dari rumah. Kalaupun ada yang jualan harganya sangat mahal "banget". Yuk langsung cekidot saja...
Ini foto aku ambil pas di ranu pane...
Nanti akan ada jalan kecil seperti ini.. nah lewat jalan ini kita akan sampai di Ranu Regulo cukup dengan jalan kaki...
Setelah menyusuri jalan tadi gak sampe 5 menit dengan jalan kaki kita udah sampai di Ranu Regulo...
Di Ranu Regulo kita juga bisa lihat kebun edelweist, tapi waktu aku ke sana kebunnya masih baru jadi bunganya masih kecil-kecil...
Puas menikmati pemandangan di Ranu, ini dia bukit teletubies yang selalu membuat aku ketagihan datang ke sana lagi... sayangnya waktu datang ke sana lagi musim kemarau jadi rumputnya agak menguning.. Paling bagus ke sana kalau gak musim kemarau suapaya kita bisa lihat bukit teletubies yang hijau...
Demikianlahh posting saya kali ini... Lain waktu saya akan berbagi cerita lagi dengan pembaca tentang tempat-tempat wisata yang pastinya seru untuk dikunjungi.. Have a nice day :D
Untuk info tempat wisata di Kabupaten Lumajang dapat dilihat pada posting saya sebelumnya, silahkan klik di sini.
KEARIFAN LOKAL DAN MASALAH LINGKUNGAN DI HUTAN BAMBU DESA SUMBER MUJUR KECAMATAN CANDIPURO KABUPATEN LUMAJANG
Diposting oleh
heni puja
Label:
Budaya,
geography,
Wisata dan Kuliner
/
Comments: (0)
Naritoom
mengatakan bahwa kearifan lokal sebagai pengetahuan yang terakumulasi karena
pengalama-pengalaman hidup, dipelajari dari berbagai situasi di sekeliling
kehidupan manusia dalam suatu wilayah. Secara filosofis, kearifan lokal dapat
diartikan sebagai sistem pengetahuan masyarakat lokal/pribumi yang bersifat
empirik dan pragnatis. Bersifat empirik karena hasil olahan masyarakat secara
lokal berangkat dari fakta-fakta yang terjadi di sekeliling kehidupan mereka.
Bertujuan pragmatis karena seluruh konsep yang terbangun dari hasil olah pikir
pengetahuan tersebut bertujuan untuk memecahkan kehidupan sehari-hari.
Dari pengertian di atas, dapat diketahui bahwa
kearifan lokal merupakan pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur untuk
mensasati lingkungan sekitar mereka dan menjadikan pengetahuan tersebut sebagai
budaya yang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi. Bentuk-bentuk
pengetahuan tradisional tersebut muncul melalui cerita, legenda, nyanyian, ritual,
dan aturan setempat. Kearifan lokal yang ada bermanfaat dalam kehidupan
sehari-hari, interaksi dengan sesame, dan juga dalam situasi yang tidak terduga
seperti bencana.
Kearifan lokal menjadi salah satu identitas yang
membedakan antara suatu masyarakat lokal dengan masyarakat lainnya. Perbedaan
tersebut dapat dilihat dari tipe-tipe kearifan lokal seperti berikut:
1. Kearifan
lokal dalam hubungannya dengan makanan khusus berhubungan dengan daerah
tersebut, disesuaikan dengan iklim, dan makanan pokok setempat. Misalnya Susi
Laut yang ada di Maluku.
2. Kearifan
lokal dalam hubungannya dengan pengobatan
3. Kearifan
lokal dalam hubungannya dengan system produksi sebagai bagian dari upaya untuk
pemenuhan tenaga kerja. Misalnya Masohi di Maluku yang digunakan untuk membuka
lahan pertanian.
4. Kearifan
lokal dalam hubungannya dengan perumahan, misalnya rumah orang Eskimo.
5. Kearifan
lokal dalam hubungannya dengan pakaian.
6. Kearifan
lokal dalam hubungannya dengan sesama manusia.
Teezzi, Marchettini, dan Rosini mengatakan bahwa
kearifan lokal nantinya akan mengendap dan berwujud tradisi atau agama. Kearifan
lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah
berlangsung lama. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam
nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu
menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian
hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka
sehari-hari.
Dalam beradaptasi terhadap lingkungan,
kelompok-kelompok masyarakat tersebut mengembangkan kearifan lingkungan sebagai
hasil abstraksi pengalaman mengelola lingkungan. Pemahaman mereka terhadap
lingkungan sekitar sangat kuat dan menjadi pedoman bagi mereka untuk
mengembangkan kearifan lokal di lingkungan mereka yang dikaitkan dengan
kebudayaan, terutama kepercayaan dan hukum adat. Kearifan tersebut kemudian
digunakan oleh masyarakat dalam bertindak terhadap lingkungan dan mengelolanya
dengan baik sehingga tidak terjadi masalah di lingkungan mereka.
Menurut
UU Nomor 4 Tahun 1982, lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup yang termasuk di dalamnya manusia dan
perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan
manusia serta makhluk hidup lainnya. Hubungan yang seimbang antara manusia
dengan lingkungan akan mampu menyajikan kehidupan yang harmonis dan tidak
saling merusak satu sama lain. Agar harmonisasi kehidupan tercipta, manusia
harus bersikap arif terhadap lingkungan yang meliputi benda, tumbuhan, dan
hewan yang ada di sekitar kita. Masalah lingkungan merupakan aspek negatif dari
aktivitas manusia terhadap lingkungan biofisik.
Hutan Bambu
merupakan kawasan yang dikenal sebagai tempat konservasi berbagai jenis tanaman
bambu dan juga beberapa satwa seperti kera dan kalong yang ada di Desa Sumber
Mujur Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang. Selain itu di Hutan Bambu
terdapat mata air Sumber Deling yang merupakan salah satu penyuplai air bagi
kehidupan masyarakat di Sumbermujur dan sekitarnya. Pada musim kemarau debit
mata air ini antara 600-800 liter per detik sedangkan pada musim hujan mencapai
1.000 liter per detik.
Sumber Deling yang ada di kawasan Hutan Bambu
mengaliri 426 hektar sawah di Desa Sumbermujur dan 561 hektar sawah di Desa
Pandanwangi Kecamatan Tempeh. Selain itu mata air ini juga mengaliri sawah di
tiga desa lain seperti Desa Penganggal, Desa Tambakrejo, dan Desa Kloposawit
yang totalnya kurang lebih 891 hektar. Untuk kebutuhan air minum, ribuan warga
yang ada di desa-desa yang ada di lereng Semeru menggantungkan hidupnya pada
mata air Sumber Deling ini. Melihat pentingnya keberadaan Hutan Bambu dan mata
air Sumber Deling, warga Desa Sumbermujur membuat Peraturan Desa Nomor 6 Tahun
2007 yang menyatakan bahwa kawasan Sumbermujur tidak boleh “disentuh” baik
flora maupun faunanya. Jika ada yang melanggar, maka pelaku akan dikenai sanksi
sesuai hukum lingkungan, yaitu hukuman badan atau denda Rp. 500.000.000,00.
Setiap tanggal 1 Muharam atau 1 Suro, warga Desa
Sumbermujur mengadakan ritual larung pendam sesaji atau Maheso Suroan di
kawasan Hutan Bambu. Kegiatan Maheso Suroan ini dilakukan oleh warga secara
turun temurun untuk melestarikan tradisi yang dari nenek moyang mereka. Selain
itu tradisi ini dilakukan oleh warga sebagai rasa syukur terhadap hasil
pertanian yang melimpah dan agar warga terhindar dari bencana. Biasanya dalam
acara ini, warga mendatangkan kesenian kuda lumping atau reog ponorogo untuk
menyemarakkan acara.
Dalam melaksanakan tradisi ini, warga mengumpulkan
berbagai macam sesaji yang berisi tumpeng nasi kuning, hasil perkebunan atau
pertanian warga desa, serta satu kepala sapi atau kerbau dan dikumpulkan di
Balai Desa Sumbermujur. Kemudian sesaji tersebut diarak beramai-ramai oleh
warga dari balai desa ke mata air Sumber Deling di kawasan Hutan Bambu. Setelah
sampai di sana, sesepuh desa membacakan doa untuk keselamatan warga lereng
semeru, setelah sesepuh desa selesai membaca doa warga boleh mengambil sesaji
yang tadi diarak dengan berebut beramai-ramai.
Puncak dari ritual Maheso Suroan tersebut ditandai
dengan menanam kepala sapi atau kerbau di atas mata air Sumber Deling. Alasan
mereka memendam kepala sapi atau kerbau karena kerbau atau sapi adalah hewan
yang memiliki air kencing banyak. Dengan mengubur kepala sapi atau kerbau di
sekitar mata air, warga berharap Sumber Deling selalu mengalirkan air bening
yang melimpah seperti kencing sapi atau kerbau.
Dari sudut pandang geografi, dengan adanya kearifan
lokal tersebut secara tidak langsung warga akan menjaga kawasan Hutan Bambu dan
tidak menebangi pohon bambu yang ada di sana. Mereka akan menganggap bahwa
daerah tersebut mempunyai nilai sakral sehingga mereka tidak berani untuk
menebangi bambu secara sembarangan. Keberadaan bambu sangat erat kaitannya dengan
mata air Sumber Deling yang ada di kawasan tersebut dan jika bambu di hutan itu
ditebangi maka debit air di mata air akan mengecil. Hal ini akan berdampak
buruk terhadap ribuan warga dan sawah yang menggantungkan hidupnya pada mata
air tersebut.
Pada tahun
1970-an, keadaan ekonomi Indonesia masih belum begitu bagus. Masyarakat Desa
Sumbermujur pada umumnya bekerja sebagai pembuat gedek atau dinding dari anyaman bambu. Mereka mengambil bambu dari
kawasan Hutan Bambu dan karena Hutan Bambu terletak di sekitar empat dusun,
maka pembabatan bambu di daerah tersebut sangat cepat dan hanya tersisa satu
rumpun bambu yang berisi 20 batang. Hal tersebut mengakibatkan debit air di
mata air Sumber Deling menurun sampai 300 liter per detik.
Menurunnya debit air di mata air Sumber Deling
menyebabkan dampak yang begitu besar bagi masyarakat sekitar. Setiap malam
warga harus mengantri untuk mendapatkan air bersih karena air yang mereka
tamping pada siang hari tidak mencukupi kebutuhan mereka. Pada saat itu
dilakukan penyaluran air secara bergilir ke setiap dusun dan dalam seminggu
hanya tiga kali air mengalir ke satu dusun sehingga berakibat pada lahan
pertanian warga. Minimnya air yang didapat oleh warga juga berdampak pada
masalah sosial karena tidak jarang mereka bentrok dengan anggota warga lain
untuk mendapatkan air bersih.
Masyarakat akhirnya menyadari bahwa dampak yang
ditimbulkan dari pembabatan hutan bambu sangat besar sehingga pada tahun
1975-1976 warga bekerja sama dengan Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam (KPSA)
mulai menanami kembali hutan tersebut dengan bambu. Sejak itu warga sangat
mendukung sekali pelestarian hutan bambu, bahkan mereka bekerja sama membangun
plengsengan pelindung mata air dan menata hutan bambu agar nyaman dikunjungi.
Penggunaan bambu untuk menjaga sumber mata air
memang sangat tepat karena bambu mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan
dengan jenis tanaman lain. Pohon bambu merupakan sumber tangkapan air yang
sangat baik sehingga mampu meningkatkan aliran air bawah tanah. Selain itu
pohon bambu mudah ditanam, tidak membutuhkan perawatan khusus, dapat tumbuh di
semua jenis tanah (basah maupun kering), tidak membutuhkan investasi besar,
pertumbuhannya cepat, dan memiliki toleransi tinggi terhadap gangguan alam dan
kebakaran. Bambu juga memiliki kemampuan peredam suara yang baik dan
menghasilkan banyak oksigen sehingga pengelolaan hutan bambu cocok untuk
digunakan sebagai pembatas jalan.
DAFTAR RUJUKAN
Anamofa, Jusuf Nikolas. 2010. Kearifan Lokal Guna Pemecahan Masalah,
(Online), (http://tal4mbur4ng.blogspot.com/2010/07/kearifan-lokal-guna-pemecahan-masalah.html),
diakses pada 18 Januari 2012.
Burhani, Ruslan. 2011. Warga Lereng Semeru Gelar Tradisi 1 Muharam,
(Online), (http://www.antaranews.com/berita/286652/warga-lereng-semeru-gelar-tradisi-1-muharam),
diakses pada 18 Januari 2012.
Chusnul. 2007. Hutan Bambu, Lumajang Merindu, (Online), (http://dongengdalam.blogspot.com/2007/07/wisata-hutan-bambu-lumajang-merindu.html),
diakses pada 10 Maret 2012.
Irawati, Dahlia. 2011. Hitan Bambu, Menjaga Sumber Air,
(Online), (http://health.kompas.com/read/2011/09/23/0304276/Hutan.Bambu.Menjaga.Sumber.Air.),
diakses pada 18 Januari 2012.
Putra,
Laksana Agung. 2009. Meruwat Mata Air
Kehidupan, (Online), (http://regional.kompas.com/read/2009/12/20/06194859/Meruwat.Mata.Air.Kehidupan),
diakses pada 18 Januari 2012.
Syahrin,
Alfi. 2011. Kearifan Lokal dalam
Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Kerangka Hukum Nasional, (Online), (http://alvisyahrin.blog.usu.ac.id/2011/05/09/kearifan-lokal-dalam-pengelolaan-lingkungan-hidup-pada-kerangka-hukum-nasional/),
diakses pada 17 Maret 2012.
Zarkazi, Syaiful Rizal. 2011. Hutan Bambu, (Online), (http://singgahlumajang.blogspot.com/2011/04/hutan-bambu.html),
diakses pada 10 Maret 2012.
BIOGEOGRAFI
1. Definisi
Biogeografi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari
makhluk hidup dan geografi, dalam penyebaran atau distribusi makhluk
hidup di bagian bumi termasuk asal dan cara penyebarannya. Penyebaran makhluk
hidup dibedakan atas penyebaran hewan dan tumbuhan. Dalam pengertiannya
biogeografi diartikan suatu study yang mempelajari distribusi atau sebaran
geografi hewan dan tumbuhan di permukaan bumi. Faktor-faktor
lingkungan seperti suhu, curah hujan, jenis tanah, dan topografi sangat
mempengaruhi pola distribusi dari suatu makhluk hidup.
Dalam pengertian yang lain,
biogeografi adalah ilmu yang mempelajari penyebaran organisme di
muka bumi. Organisme yang dipelajari mencakup organisme yang masih hidup
dan organisme yang sudah punah. Dalam
biogeografi dipelajari bahwa penyebaran organisme dari suatu tempat ke tampat
lain melintasi berbagai faktor penghalang. Faktor-faktor penghalang ini menjadi
pengendali penyebaran organisme. Faktor penghalang uang utama adalah iklim dan
topografi. Akibat dari hal tersebut, maka di permukaan bumi terbentuk kelompok-kelompok hewan dan
tumbuhan yang menempati daerah yang berbeda-beda.
Di
dunia ini dikenal 6 daerah biogeografi dengan masing-masing daerah yang
memiliki perbedaan dan keseragaman tertentu (unik) dalam kelompok-kelompoknya. Daerah
biogeografi ini dinamakan Australia, Oriental, Ethiopia, Neotropika, Paleartik
dan Neartik. Karena fauna Paleartik dan Neartik adalah serupa, maka kedua
daerah biogeografi ini kadang-kadang digabung menjadi Holartik.
2. Proses-proses
perubahan penyebaran biogeografi
Distribusi organisme
dipengaruhi oleh sejarah, iklim masa lalu, susunan atau bentuk-bentuk benua, hubungan
ekologis masa lalu dengan masa sekarang, dan semua interaksi satu sama lainnya.
Karena kompleksitas hubungan ini, maka para pakar biogeografi telah cenderung
memusatkan pada salah satu dari dua pendekatan utama terhadap bidang ilmu ini.
Komunitas yang terdiri
dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam interaksinya yang berarti dalam
ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa. Perkembangan ekosistem menuju
kedewasaan dan keseimbangan dikenal sebagai suksesi
ekologis atau suksesi. Suksesi terjadi
sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem.
Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan
seimbang (homeostatis).
Di alam ini terdapat
dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
a.
Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batubara, dan minyak bumi. Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns mengadakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi
Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batubara, dan minyak bumi. Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns mengadakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi
b. Suksesi sekunder
Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, baik secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. Contohnya, gangguan alami misalnya banjir, gelombang taut, kebakaran, angin kencang, dan gangguan buatan seperti penebangan hutan dan pembakaran padang rumput dengan sengaja.
Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, baik secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. Contohnya, gangguan alami misalnya banjir, gelombang taut, kebakaran, angin kencang, dan gangguan buatan seperti penebangan hutan dan pembakaran padang rumput dengan sengaja.
Perbedaan
antara Flora Indonesia Barat dan Timur
Karakteristik
flora di Indonesia barat dengan flora yang ada di Indonesia ttimur juga
memiliki perbedaan. Berikut adalah perbedaan karakteristik flora di Indonesia
Barat dan Indonesia Timur:
Flora di Indonesia bagian Barat
-
Banyak terdapat jenis meranti-ranti
-
Terdapat berbagai jenis
rotan
-
Tidak memiliki hutan
kayu putih
-
Memiliki jenis tumbuhan
matoa (pometia pinnata) yang sedikit
-
Memiliki jenis tumbuhan
sagu yang sedikit
-
Memiliki berbagai jenis
nangka
Flora di Indonesia bagian Timur
-
Memiliki jenis
meranti-rantian yang sedikit
-
Tidak memiliki rotan
-
Terdapat hutan kayu
putih
-
Memiliki berbagai jenis
tumbuhan matoa (khusunya di Papua)
-
Memiliki banyak
tumbuhan sagu
-
Tidak terdapat jenis
nangka
MOBILITAS PENDUDUK: PENGARUHNYA TERHADAP PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA SURABAYA
Heni Puja Astuti
Universitas Negeri Malang
Email: heni_puja@yahoo.com
ABSTRAK: Kota Surabaya
merupakan salah satu kota besar di Jawa Timur di mana tingkat pertumbuhan
penduduk di kota ini sangat tinggi. Banyak migran dari berbagai daerah sekitar
Surabaya Bangkalan, Gresik, Lamongan, dan Mojokerto datang ke kota ini
untuk mencari pekerjaan. Hal ini menyebabkan terciptanya permukiman kumuh yang
dihuni oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah. Permukiman kumuh yang ada di Kota Surabaya sangat
banyak dijumpai, akan tetapi titik permukiman kumuh paling banyak ada di
Surabaya bagian utara. Pengaruh migran yang datang ke Surabaya sangat besar
terhadap keberadaan permukiman kumuh di kota ini.
Kata
kunci: permukiman kumuh, migran
Mengukur Luas Menggunakan Google Planimeter
Mengukur luas suatu daerah tidak harus datang langsung ke lokasi yang ingin diukur. Banyak cara yang dapat digunakan. Yang paling banyak digunakan yaitu dengan menggunakan peta. Namun saat ini melakukan pengukuran dapat dilakukan secara online. Gimana caranya??? Yuukk simak langkah-langkah berikut:
Pertama, masuk dulu ke alamat http://www.acme.com/planimeter/, kemudian akan muncul tampilan seperti berikut
Pertama, masuk dulu ke alamat http://www.acme.com/planimeter/, kemudian akan muncul tampilan seperti berikut
Untuk menentukan lokasi yang diinginkan dapat dilakukan dengan cara menggeser ke atas scrool yang ada di bagian kiri.
Untuk menggeser ke lokasi yang diinginkan dapat dilakukan dengan meng-klik pada bagian di bawah ini
Setelah ketemu lokasi yang diinginkan, klik pada ujung-ujung lokasi yang ingin di ukur luasnya dan secara otomatis akan muncul tanda dan luas daerah yang diinginkan
Mudah kan??? Nah sekarang silahkan dicoba yaaaa... :)

