UNSUR-UNSUR FISIK PEMBENTUK WILAYAH KABUPATEN LUMAJANG

1.      Kondisi Geografis           
Kabupaten Lumajang terletak pada 112°53'–113°23' Bujur Timur dan 7°54'–8°23' Lintang Selatan. Luas wilayah keseluruhan Kabupaten Lumajang adalah 1790,90 km2 atau 3,74% dari luas Propinsi Jawa Timur. Luas tersebut terbagi dalam 21 Kecamatan yang meliputi 197 Desa dan 7 kelurahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Luas Wilayah Kabupaten Lumajang Per Kecamatan
K E C A M A T A N
LUAS (km2)
JUMLAH DESA
  Tempursari
101,36  
7   
  Pronojiwo
38,74  
6   
  Candipuro
144,93  
10   
  Pasirian
183,91  
11   
  Tempeh
88,05  
13   
  Yosowilangun
81,30  
12   
  Rowokangkung
77,95  
7   
  Jatiroto
77,06  
5   
  Randuagung
103,41  
12   
  Pasrujambe
97,30  
7   
  Senduro
228,68  
12   
  Ranuyoso
98,42  
11   
  Lumajang
30,26  
12   
  Sumbersuko
26,54  
8   
  Tekung
30,40  
8   
  Kunir
50,18  
11   
  Sukodono
30,79  
10   
  Padang
52,79  
9   
  Gucialit
72,83  
9   
  Kedungjajang
92,33  
12   
  Klakah
83,67  
12   
J U M L A H  
1.790,90  
204   


Gambar 1:  Peta Kabupaten Lumajang
Kabupaten Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yaitu  Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 m, Gunung Bromo dengan ketinggian 3.2952 m, dan Gunung Lamongan yang tingginya 1.668 m.
Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang adalah sebagai berikut :
  -  Sebelah barat         :   Kabupaten Malang
  -  Sebelah utara         :   Kabupaten Probolinggo
  -  Sebelah timur         :   Kabupaten Jember
  -  Sebelah selatan      :   Samudera Indonesia
Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di kawasan tapal kuda Provinsi Jawa Timur. Di bagian barat laut, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Probolinggo, terdapat rangkaian Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Bagian timur laut adalah ujung barat Pegunungan Iyang. Bagian Timur yang ber-relief rendah menjadikan Lumajang memiliki banyak wisata Pantai seperti Pantai Bambang, Watu Pecak, Watu Godeg, dan Watu Gedeg. Dilingkaran pegunungan semeru terdapat daerah Piket Nol yang menjadi puncak tertinggi di lintas perbukitan selatan berdekatan dengan Goa Tetes yang eksotis. Di Daerah Sumber Mujur juga terdapat Kawasan Hutan Bambu di sekitar mata air Sumber Deling yang merupakan kawasan pemuliaan dan pelestarian aneka jenis tanaman bambu. Di kawasan ini juga terdapat habibat kawanan kera dan ribuan kelelawar (keloang). Selain itu, di Pasrujambe terdapat sebuah tempat wisata mata air suci dan pura watu klosot yang menjadi kawasan tujuan wisata bagi peziarah hindu dari Bali. Ketinggian daerah Kabupaten Lumajang bervariasi dari 0-3.676 m dengan daerah yang terluas adalah pada ketinggian 100-500 m dari permukaan laut 63.405,50 Ha (35,40 %) dan yang tersempit adalah pada ketinggian 0-25 m dpl yaitu 19.722,45 Ha atau 11,01 % dari luas keseluruhan Kabupaten. Curah hujan di Kabupaten Lumajang yaitu 1142 mm/th.
Penduduk Kabupaten Lumajang umumnya adalah Suku Jawa dan Suku Madura dengan agama mayoritas Islam. Di Pegunungan Tengger Kecamatan Senduro (terutama di daerah Ranupane, Argosari, dan sekitarnya), terdapat masyarakat SukuTengger yang memiliki bahasa khas dan beragama Hindu. Di Senduro terdapat semacam bangunan yang menyerupai pura, yang sering di buat tempat persembahan pada hari besar umat hindu, sedangkan pada hari-hari biasa pura tersebut dijadikan sebagai tempat pariwisata.
2.      Geologi
Kondisi geologi merupakan kondisi suatu wilayah berdasarkan struktur dan komposisi batuan yang terdapat pada lapisan bumi yang meliputi topografi maupun bentuk permukaannya. Formasi geologi terdiri dari beberapa macam yaitu kuarter (Q), Mesozoikum (Mz), batuan beku dalam ultra basa (Pdt), Miosen bawah (L Mi), Sekis hablur (Pr), Mio Pliosen (Mi Pi), batuan beku dalam basa (Gb), Paleogen (Pg), dan batuan beku dalam asam kapur (K Gr).
Ditinjau dari segi batuan pembentuk struktur geologi wilayah, kawasan Kabupaten Lumajang terdiri dari jenis batuan Old Kwarter Vulkanik, Young Kwarter Vulkanik, dan Alluvium. Pada umumnya Kabupaten Lumajang disusun oleh formasi batuan Alluvium (68.005,87 Ha) yang mencapai 38% dan terkecil Miosen Sedimentary 8% dari luas wilayah.
Berdasarkan pengamatan peta geologi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Geologi dan Pertambangan tahun 1977, maka di Kabupaten Lumajang terdapat 4 peristiwa geologi yaitu Kuartier Tua, Kuartier Muda, Halosen, dan Miosen. Hasil gunung api Kuartier Muda maupun Tua (Vulkanik) merupakan batuan pembentuk tanah yang paling luas terdapat pada Kabupaten Lumajang 71,76 % dari luas wilayah. Batuan pembentuk lain yang cukup luas adalah Aluvium yaitu 21,06 %, dan fasies Sedimen merupakan areal yang paling sedikit yaitu 7,18 %. Dilihat dari penyebaran letak batuan yang dibentuk pada zaman Kuartier hampir seluruhnya berada pada daerah yang berlereng lebih 2% dan pada ketinggian antara 100 m sampai lebih dari 1000 m. Sejalan dengan keadaan tersebut batuan yang dibentuk pada zaman Meosen (Melosen sedimentary) menyebar pada daerah datar maupun berlereng, tetapi dengan ketinggian kurang dari 1000 m dan terbanyak pada daerah 100-500 m dari permukaan laut (dpl). Sedangkan batuan yang dibentuk pada zaman Halocen (aluvium) terdapat pada daerah berlereng 0 - 2 % dengan ketinggian kurang dari 100 m dari permukaan laut (dpl).
Daerah Kabupaten Lumajang disusun secara geologi oleh batuan-batuan dari Formasi Mandalika (Formasi Wuni, Tuf Argopuro), Batuan Gunung api Jembangan (Tengger, Semeru, dan Lamongan), Endapan Rawa, dan Aluvium. Secara stratigrafi Formasi Mandalika merupakan satuan tertua di wilayah ini yang diperkirakan berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal menempati sebagian kecil wilayah kabupaten Lumajang bagian barat daya. Wilayah ini juga terdiri atas batuan piroklastik dan lava bersusunan andesitik – basaltik yang umumnya telah terpropilitkan.
Tidak selaras diatas batuan gunung api tua ini diendapkan Formasi Wuni berumur Miosen Tengah yang bercirikan perselingan breksi, lava, breksi tufa, breksi lahar, dan tufa pasiran yang  tersebar di sebagian kecil daerah bagian barat daya. Kedua formasi diatas ditutupi oleh satuan-satuan stratigrafi berumur Plistosen yang disusun oleh Tuf Argopuro di bagian timur, hasil kegiatan gunung api  Jembangan, Tengger, dan Semeru di bagian utara dan tengah, serta hasil kegiatan gunung api Lamongan di bagian timur laut. Endapan rawa diendapkan di bagian selatan wilayah Kecamatan Pronojiwo sementara aluvium menempati bagian pedataran di sebelah timur wilayah Kabupaten Lumajang.

            Mengacu kepada kondisi geologi daerah Kabupaten Lumajang yang disusun terutama oleh batuan-batuan piroklastik dan lava, maka produk gunung api di daerah tersebut dapat dikategorikan ke dalam sekwen susunan batuan dari gunung api komposit. Luas sebaran dan besarnya volume produk gunung api tersebut telah membentuk sumber daya bahan galian C yang signifikan di wilayah Lumajang sehingga menciptakan potensi untuk dikelola dan dimanfaatkan secara optimal sebagai penunjang perekonomian daerah. Teridentifikasi berbagai jenis bahan galian golongan C yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan bahan industri sebagai berikut ( Pemerintah Kabupaten Lumajang, Bagian Ekonomi dan Kesra,  2003 ) :
1.      Pasir dan batuan
Pasir dan beraneka ragam ukuran batu mempunyai potensi terbesar di wilayah kabupaten Lumajang yang tersebar di beberapa daerah kecamatan terutama pada aliran kali-kali Leprak, Glidik, Besuksat, Mujur, Rejali, dan sungai-sungai lain berukuran besar/kecil yang berperan sebagai saluran transportasi bahan-bahan rombakan hasil erupsi G. Mahameru. Teridentifikasi bahwa sumber daya bahan galian pasir dan batu hasil kegiatan erupsi G. Mahameru yang berkesinambungan telah menciptakan pendangkalan badan-badan sungai yang dilaluinya dan sekaligus menjadi lahan penambangan utama bahan galian dimaksud. Kuantitas bahan galian termasuk ke dalam kategori sumber daya tereka dengan jumlah total ± 2.333.000 m3.
2.      Tanah atau pasir urug
Jenis bahan galian tanah urug ditambang dari daerah perbukitan, sementara pasir urug digali dari endapan sungai purba dengan  penambangan dibawah pengawasan instansi terkait dan bekas penambangan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
3.      Andesit
Jenis bahan galian ini berasal dari pegunungan yang berada di beberapa kecamatan, terdiri atas batuan andesit tidak terubah berwarna abu-abu dan terubah hidrotermal berwarna kehijauan. Bahan galian andesit tidak terubah berasal dari Gunung Ketuk, Kali Gede, dan Kali Uling. Sedangkan andesit yang terubah ditambang dari sekitar daerah Gunung Mesigit, Gunung Berangkal, dan Gladak Perak. Kedua jenis bahan galian tersebut mempunyai kuantitas yang termasuk ke dalam sumber daya tereka dengan jumlah ± 8.766.456 m3, yang dapat digunakan untuk bahan bangunan dan ornamen dinding bangunan.
4.      Diorit
Diorit dari Gunung Jugo di Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro dikenal sebagai salah satu bahan galian golongan C yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan lantai. Kuantitas bahan galian ini dikategorikan sebagai sumber daya tereka dengan jumlah ± 62.500 m3 memiliki cukup kekerasan, kekuatan tekan, dan apabila dipoles memperlihatkan tekstur menyerupai gabro atau granit.
5.      Tuf lapili
Bahan galian ini tersebar di Gunung Licing bagian selatan, Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian pada ketinggian 200 – 300 meter dan juga ditemukan di lereng barat perbukitan sebelah utara Dusun Dampar, merupakan sisipan dalam breksi vulkanik dengan warna putih keabu-abuan, kuantitasnya termasuk ke dalam kategori sumber daya tereka sebesar ± 193.110 m3 sehingga dapat dimanfaatkan untuk ornamen dinding bangunan.
6.      Batu gamping pasiran
Bahan galian ini terdapat di Desa Wareng dan Umbulsari, Kecamatan Tempursari. Bahan galian ini berwarna coklat muda, berlapis, dan sangat keras. Bahan ini mengandung kuarsa, pecahan batuan, dan fosil bentos dengan kuantitas sebesar ± 1.395.728 m3, dapat dianggap sebagai sumber daya tereka.
7.      Bahan galian logam
Jenis bahan galian berupa mineral-mineral mengandung tembaga (Cu), molybdenum (Mo), seng (Zn), emas (Au), perak (Ag), dan arsen (As), yang masih merupakan indikasi dalam zona mineralisasi di daerah-daerah Desa Oro-oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, Gladak Perak di Kecamatan Candipuro, dan Kali Sukosari di Kecamatan Tempursari. Bahan galian pasir besi teridentifikasi sebagai endapan pantai di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun telah dieksplorasi dan menghasilkan informasi tentang kandungan Fe rata-rata 48,75%.

Pembentukan jenis tanah dipengaruhi oleh iklim, bahan induk, dan keadaan topografi. Berdasarkan Peta Tanah Tinjau yang dikeluarkan Lembaga Penelitian Bogor tahun 1966, jenis tanah di Kabupaten Lumajang terdiri dari alluvial, regosol, andosol, mediteran, dan latosol. Sifat dan ciri jenis tanah tersebut dapat dilihat dalam penjelasan di bawah ini:
a.       Alluvial
Alluvial dibentuk dengan bahan induk bahan-bahan alluvial dan koluvial yang berasal dari berbagai sumber. Tanah ini dibentuk di dataran rendah yang rata, kadang-kadang agak berombak, di dataran rendah tanah ini merupakan dataran banjir. Tanah alluvial merupakan tanah yang belum atau/tidak mempunyai diferensiasi horisan, atau diferensiasi horizon yang lemah. Proses pelapukan masih belum intensif.
Tanah alluvial tidak punya kedalaman yang jelas sampai kedalaman 50 cm, horizon/lapisan yang ada Nampak berstratifikasi dengan warna kelabu sampai coklat. Tanah ini mempunyai kandungan pasir dan debu kurang dari 40% dengan struktur masif atau tanpa struktur. Konsistensi teguh (lembab), plastis (basah) tetapi keras bila kering. Reaksi tanah bervariasi, bahan organik rendah, kejenuhan basa sedang sampai tinggi, sedangkan kandungan unsur hara tergantung pada kandungan bahan induk tanah. Permeabelitasnya rendah dan peka terhadap erosi.
b.      Regosol
Pada umumnya, bahan induk regosol berupa abu vulkan, pasir pantai, serta bahan-bahan sedimen yang tidak mantap. Topografi berkisar dari bergelombang, berombak, dan bergunung, dengan vegetasi bervariasi pula. Regosol merupakan tanah muda yang masih belum mempunyai perkembangan profil, diferensiasi horizon tidak nampak jelas.
Solum regosol bervariasi dari dangkal sampai dalam, berwarna kelabu sampai kuning dan hanya dicirikan oleh profil (A) C dengan batas horizon yang baur. Kandungan pasir dan debu melebihi 60%, berstruktur butir tunggal sehingga mempunyai potensi yang amat gembur dan lepas. Reaksi tanah sangat bervariasi tergantung bahan induk. Bahan organiknya rendah meskipun kejenuhan basanya bervariasi, tanah ini mempunyai kapasitas tukar kation yang rendah. Karena tanah ini bertekstur kasar, mempunyai permeabelitas yang rendah dan sangat peka terhadap erosi terutama erosi air.
c.       Andosol
Andosol merupakan ciri khas di daerah pegunungan yang mempunyai curah hujan sekitar 2000 mm/tahun yang hampir tidak mempunyai musim kering. Bahan induknya berupa tuf vulkan dan abu vulkanik yang relatif muda. Andosol dijumpai pada daerah yang mempunyai ketinggian lebih dari 1000 m dengan topografi bergelombang, agak rata, dan dataran tinggi gunung berapi, di bawah vegetasi hutan tropika basah.
Solum andosol pada umumnya agak dalam sampai dalam, berwarna hitam sampai kekuningan, mempunyai horisan A umbrik tetapi horizon B yang baru berkembang. Struktur tanah umunya remah dan semakin mantap dengan makin dalamnya profil. Konsistensi tanah gembur, mempnyai sifat tidak pulih bila kering. Tekstur dicirikan kandungan debu yang tinggi. Reaksi tanah berkisar dari agak masam sampai netral, kandungan bahan organik tinggi di lapisan atas tetapi menurun di lapisan bawah. Andosol mempunyai permeabelitas yang baik, tetap sangat peka terhadap erosi baik oleh air maupun angin.
d.      Mediteran
Tanah mediteran berkembang dari bahan berkapur kristalin, kapur yang mengandung batuan sedimen, dan batuan atau tuf vulkan basa sampai intermedier. Terbentuk pada daerah yang mempunyai topografi bergelombang sampai berbukit antara 0-700 m di atas permukaan laut.
Solum mediteran agak dalam, bila tanah berkembang dari tuf dijumpai horizon A, B2, dan C, tetapi bila berkembang dari batuan kapur dijumpai horizon A, B2t, dan C. warna tanah berkisar dari kuning sampai merah. Tekstur tanah berkisar dari lempung sampai liat maksimum pada horizon B2 (argilik).
e.       Latosol
Latosol umumnya berkembang dari tuf vulkanik dan batuan vulkanik, pada wilayah bergelombang sampai bergunung dengan ketinggian berkisar 10-1000 m di bawah vegetasi hutan tropika basah.
Latosol dicirikan dengan lapisan solum yang dalam (lebih dari 1,5 m), berwarna merah sampai coklat dengan profil yang hampir homogen. Tanah ini mempunyai tekstur berliat, yang cenderung semakin berliat dengan makin dalamnya profil. Struktur tanah adalah remah sampai gumpal sudut yang lemah dengan konsistensi yang gembur di semua bagian profil tanah. Ditinjau dari sifat kimia, reaksi tanah berkisar dari masam sampai agak masam, bahan organik rendah, kejenuhan basa lebih dari 35%, tetapi kapasitas tukar kation kurang dari 4 me/100 liat. Kandungan unsur hara berkisar dari rendah sampai sedang dan mempunyai permeabelitas baik. Secara umum sifat fisik latosol adalah baik.
Jenis tanah di Kota Lumajang pada umumnya seragam yaitu variasi antara latosol dan regosol dengan bahan induk berupa pasir/abu tuf dan batuan vulkan intermedier sampai basis. Struktur tanahnya remah sampai liat lempung, gembur/sangat gemur, sifat kimia baik beradsorbsi > 33 m. cq./100 gr liat dan gumpal dengan tata air dan udara baik. Tekstur batuan ini agak porous, gersang, dan pasir berlempung yang cukup baik untuk kegiatan pertanian dan kurang baik untuk pembangunan gedung berlantai tinggi.
3.      Morfologi
Morfologi Jawa Timur terdapat tiga zone, yaitu:
-          Zone Selatan   : terdiri atas plato kapur yang miring ke selatan dan paneplain yang terangkat, pada umumnya dibagian utara dibatasi gawir sesar.
-          Zone Tengah   : terdiri atas depresi yang ditumbuhi gunung-gunung aktif
-          Zone Utara      : terdiri dari rangkaian pegunungan lipatan rendah yang dikelilingi perbukitan dan beberapa volkan.
Daerah Lumajang berada pada zone tengah, terdiri atas formasi pegunungan denudasional bukan kapur dan dataran nyaris dengan topografi bergelombang yang kemiringannya datar hingga sangat curam.
Pegunungan Selatan di Jawa Timur berkembang sebagai fasies volkanik dan karbonatan yang berumur Miosen. Di sebelah utara dari jalur volkanik kwarter adalah jalur Kendeng yang terdiri dari endapan Tersier yang agak tebal. Menurut Genevraye dan Samuel (1972), tebalnya lapisan Tersier di sini mencapai beberapa ribu meter. Dekat kota Cepu daerah ini terlipat dan tersesarkan dengan kuat. Di beberapa tempat lapisan-lapisan itu bahkan terpotong-potong oleh sesar naik dengan sudut kemiringan yang kecil. Pegunungan Selatan di wilayah ini tenggelam. Depresi Lumajang diapit dua sesar besar di sebelah barat dan timurnya. Dua sesar besar ini telah memutuskan dan mengubah kelurusan jalur gunungapi Kuarter di Jawa Timur.
Karakteristik daerah Lumajang merupakan depresi yang tertimbun di bawah dataran alluvial sebagai akibat proses down warping dan merupakan wilayah pengaliran sungai-sungai yang berasal  dari kedua dataran tinggi di sebelah barat dan timur depresi. Di sebelah selatannya muncul sebagai dangkalan yang merupakan selat antara daratan Lumajang dengan Nusa Barong. Oleh karena itu sedimentasi yang cepat di bagian ini maka terbentuklah berbagai variasi gosong pasir dan tambolo. Nusa Barong sendiri berupa plato kapur dengan topografi yang relatif sempurna.
Keberadaan sesar besar utara-selatan sedikit melengkung menghadap depresi Lumajang adalah penyebab indentasi dan depresi Lumajang. Sesar besar ini dapat menjelaskan kelurusan gunungapi Semeru-Bromo-Penanjakan. Puncak-puncak gunung ini tersebar utara-selatan. Bila kita berdiri di puncak Penanjakan (2775 m) sebelah utara Bromo (2329 m), kita akan melihat ke utara akan nampak  laut Selat Madura, melihat ke selatan akan nampak gunung Bromo dan Semeru. Kelurusan ini membuat masyarakat Tengger menyucikan ketiga gunung yang dianggapnya  sebagai atap dunia itu. Sebenarnya, di bawah ketiga gunung ini terdapat sesar besar yang juga konon bertanggung jawab telah menenggelamkan Pegunungan Selatan Jawa di wilayah ini. Sesar besar ini telah diterobos magma sejak Plistosen atas sampai Holosen menghasilkan gunung-gunung di kawasan Kompleks Tengger. Semacam erupsi linier dalam skala besar telah terjadi dari selatan ke utara di sepanjang sesar ini berganti-ganti selama Plistosen sampai Kuarter. Dari selatan ke utara ditemukan pusat2 erupsi sbb. : Semeru, Jembangan, Kepolo, Ayek-Ayek, Kursi, Bromo, Batok, dan Penanjakan. Yang masih suka meletus sampai kini adalah Semeru dan Bromo.
Danau kawah Ranu Kembolo, Ranu Pani, dan Ranu Regulo merupakan maar sisa erupsi gunung Ayek2 yang terletak di antara Kaldera Tengger dan Semeru.  Yang pernah mendaki Semeru pasti pernah melalui pos-pos Ranu Pani dan Ranu Kembolo ini. Van Bemmelen (1949) menarik garis volcano-tectonic yang besar dari Selat Madura sampai hampir pantai selatan Jawa Timur berarah utara-selatan. Menurutnya, inilah sebuah transverse fault yang besar yang memotong tegak lurus trend struktur Jawa bagian barat-timur. Transverse fault ini menjadi lokasi semua gunung api aktif maupun mati di wilayah ini, sehingga lineament gunung api ini menyimpang dari lineament gunung api Jawa pada umumnya (barat-timur). Kompleks Tengger-Semeru berarah utara-selatan, bahkan wilayah Grati dan Semokrong di tepi pantai utara eastern spur Jawa Timur ini, atau di sebelah selatan Selat Madura, menurut van Bemmelen (1949) masih merupakan bukit-bukit yang terjadi oleh aktivitas volcano-tectonic akibat runtuhnya kaldera Tengger.

Gambar 6: Deretan pegunungan di sekitar Semeru
Meminjam transverse fault Tengger-Semeru van Bemmelen ini untuk menerangkan terjadinya Depresi Lumajang ke sebelah timurnya, dengan menggunakan juga transverse fault pasangannya di wilayah Jember, yaitu Iyang (Yang)-Argopuro Fault . Kedua transverse fault ini mengapit wilayah Lumajang yang tenggelam, sehingga bisa disimpulkan bahwa kedua transverse fault tersebut merupakan block faulting yang besar dengan block terbannya (downblock) ditempati oleh Depresi Lumajang. Letak Lumajang yang tenggelam bisa dilihat apabila mengamati garis pantai selatan Lumajang yang terindentasi ke dalam dan Pegunungan Selatannya yang hilang.
4.      Hidrologi
 Keadaan hidrologi dan pengairan merupakan keadaan yang menggambarkan fisik tanah yang berhubungan dengan adanya genangan air, saluran irigasi, sungai, dan danau. Dengan mengetahui keadaan tersebut akan dapat diketahui cara pemanfaatan tanah. Misalnya pada daerah yang banyak terdapat aliran sungai, penduduknya banyak memanfaatkan sungai sebagai sarana kehidupan rumah tangga sehari-hari. Pada daerah yang banyak terdapat saluran irigasi berarti daerah tersebut telah memanfaatkan tanahnya untuk budidaya pertanian lahan basah. Pada daerah yang banyak terdapat alur sungai berarti daerah tersebut telah memanfaatkan air tersebut sebagai bahan baku air bersih.
Kemampuan Lahan adalah salah satu aspek fisik yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rencana fisik karena menyangkut kemampuan efektif tanah dan kondisi hidrologi wilayah. Kemampuan jenis tanah adalah daya dukung tanah pada suatu wilayah apabila dilakukan pembudidayaan serta menjadi daya dukung ketersediaan air pada wilayah tersebut. Ada enam indikator kemampuan tanah yakni lereng/kemiringan tanah, kedalaman efektif tanah, tekstur tanah, drainase, tingkat erosi, dan faktor pembatas yang dijelaskan sebagai berikut :
a.       Kemiringan Tanah (Lereng)
Kemiringan tanah (lereng) merupakan sudut yang dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horisontal. Kabupaten Lumajang seluas 179.090,00 Ha, berdasarkan klasifikasi lereng (kemiringan) adalah :
-          Datar (0-2%) seluas 87.199,59 Ha (45,9%)
-          Landai-agak miring (2-15%) seluas 1.459,57 Ha (17,57%)
-          Miring-agak curam (15-40%) seluas 28.827,89 Ha (10,10%)
-          Curam-sangat curam (lebih dari 90%) seluas 36.602,65 Ha
b.      Drainase
        Drainase adalah kemampuan permukaan tanah untuk merembeskan air secara alami atau cepat atau lambatnya air hilang dari permukaan tanah setelah hujan secara alami dan bukan karena perlakuan manusia. Berdasarkan pengertian tersebut, maka drainase diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas yakni tidak pernah tergenang, tergenang secara periodik, dan tergenang terus-menerus.
Secara umum keadaan drainase di Kabupaten Lumajang cukup baik mengingat keadaan topografi yang bervariasi kemiringannya. Keadaan topografi di Kabupaten Lumajang yang bervariasi mulai datar sampai curam menguntungkan dari aspek ketergantungannya. Pengaturan air yang baik dan berfungsinya saluran pengairan, menyebabkan daerah tidak tergenang kecuali jika terjadi bencana alam.
Kabupaten Lumajang mempunyai 31 sungai dan 6 air terjun. Selain itu juga terdapat danau (ranu), yakni Ranu Pakis, Ranu Klakah, dan Ranu Bedali di Kecamatan Klakah serta Ranu Pane dan Ranu Gumbolo di Kecamatan Senduro. Selain itu di Lumajang terdapat beberapa sumber air bersih yang digunakan oleh warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari baik untuk keperluan pribadi maupun untuk irigasi.
Sungai-sungai besar dengan daerah aliran di lumajang dan sekitarnya antara lain Sungai Besuk Sat, Sungai Bondoyudo, Sungai Kaliasem, Sungai Kalimujur, Sungai Kali Pancing, dan Sungai Rejali yang hampir kesemuanya bermuara di Pantai Laut Selatan. Lumajang juga mempunyai beberapa tempat wisata yang tidak kalah menariknya dari daerah lain seperti Piket Nol, Hutan Bambu, dan juga Pantai Bambang serta pemandian Selo Kambang yang terletak di Kecamatan Sumbersuko dan masih banyak tempat tempat wisata lainnya.

Gambar 7: Beberapa sungai di Lumajang yang bermuara di Pantai Laut Selatan


Gambar 8: Sungai pengendapan material Gunung Semeru
Kedalaman muka air tanah dangkal di Kota Lumajang adalah 2 meter dengan debit yang cukup konstan. Mutu air di kota ini menunjukkan bahwa kualitas airnya cukup baik dengan curah hujan rata-rata adalah 1997 mm per tahun dan kedalam air tanah rata-rata adalah 2 meter.

4 komentar:

Posting Komentar